GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Hardiknas 2026: PD-PGMI Dorong Reformasi Prodi dan Minat Generasi Muda Jadi Guru

Webinar Hardiknas 2026 yang diselenggarakan PD-PGMI Indonesia dengan tema “Penguatan Program Studi PGMI untuk Menuju Pendidikan Tinggi Bereputasi Global Versi QS WUR by Subject” menghadirkan para narasumber nasional dari Kementerian Agama RI dan akademisi pendidikan Islam.

Suara Time, Jakarta
- Pengurus Pusat PD-PGMI Indonesia menggelar Seminar Nasional dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 sebagai respons terhadap berbagai tantangan pendidikan dasar, termasuk menurunnya minat generasi muda untuk berprofesi sebagai guru.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada 1 Mei 2026 ini menghadirkan pemangku kebijakan dan akademisi guna merumuskan strategi penguatan Prodi PGMI di Indonesia. 

Dalam forum tersebut, Ketua Umum PD-PGMI Indonesia, Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I., menyoroti fenomena krisis minat generasi Z dan Alpha terhadap profesi guru. Ia menjelaskan bahwa persepsi rendahnya kesejahteraan dan tingginya beban administratif menjadi faktor utama yang membuat profesi guru kurang diminati.

Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk melakukan rebranding Prodi PGMI sebagai pencetak pemimpin pendidikan masa depan yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki daya saing global. 

Lebih lanjut, transformasi tersebut diarahkan pada penguatan kurikulum berbasis outcome, integrasi teknologi pendidikan, serta peningkatan literasi digital dan kompetensi global mahasiswa.

Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lulusan PGMI yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga mampu berinovasi dalam dunia pendidikan, sehingga profesi guru kembali menjadi pilihan yang menarik bagi generasi muda.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Sahiron Samsudin, M.A., dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan seminar ini sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan Prodi PGMI sangat penting untuk memastikan tersedianya guru kelas yang berkualitas bagi Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar di masa depan.

Prof. Sahiron juga menekankan bahwa upaya meningkatkan minat menjadi guru harus diiringi dengan kebijakan yang adil, khususnya dalam rekrutmen ASN. Ia menegaskan bahwa tidak boleh lagi ada diskriminasi terhadap lulusan PGMI, serta menyatakan komitmen Diktis Kemenag untuk terus memfasilitasi penerimaan lulusan PGMI secara luas. Jika masih terdapat ketidakadilan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait guna memastikan persoalan tersebut dapat diselesaikan secara tuntas.

Sementara itu, Kasubtim Mutu Akademik pada Subdirektorat Pengembangan Akademik, Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Kemenag RI, Fatkhu Yasik, S.Pd., M.Pd. dalam paparannya menegaskan pentingnya penataan dan penguatan program studi sebagai bagian dari reformasi akademik di PTKI.

Ia menyampaikan bahwa kebijakan penataan prodi, pengembangan nomenklatur baru, serta peluang kerja sama bergelar seperti double degree, joint degree, dan fast track menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan.

Selain itu, kebijakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) juga dinilai mampu memperluas akses pendidikan dan mempercepat peningkatan kualifikasi akademik, sehingga pada akhirnya dapat memperkuat citra dan daya tarik profesi guru di mata masyarakat.

Komentar0

Type above and press Enter to search.