| Ilustrasi: Sulaiman BP / AI-Generated (Gemini) |
Oleh: Sulaiman BP, Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Pendidikan Tinggi di Indonesia.
Editor : Bella Grace
Suara Time, Opini - Setiap tahun, ribuan
mahasiswa Indonesia turun ke desa. Mereka membawa semangat, laptop, dan
proposal program. Mereka mendirikan tenda di balai desa, mengajar anak-anak di
pinggir sawah, mendampingi ibu-ibu membuat produk UMKM. Lalu, setelah empat
puluh hari, mereka pulang. Laporan dijilid. Diserahkan. Disimpan.
Dan di situlah,
diam-diam, pengetahuan itu mati.
Bukan karena tidak ada
yang terjadi di lapangan. Justru sebaliknya — terlalu banyak yang terjadi,
terlalu banyak yang dipelajari, terlalu banyak yang ditemukan. Tetapi sistem
kita belum cukup dewasa untuk mengubah pengalaman itu menjadi pengetahuan yang bisa
diwariskan. Inilah krisis senyap yang sedang menggerogoti ekosistem akademik
Indonesia: kita menghasilkan banyak kegiatan, tetapi sedikit sekali pengetahuan
yang terdokumentasi dan dapat diakses publik.
Hibah Bukan Sekadar
Dana, Ia Adalah Kontrak Moral
Ketika seorang dosen
memenangkan hibah penelitian atau pengabdian masyarakat — baik dari skema DRTPM
Kemendikbud-Ristek, Hibah BRIN, maupun dana internal perguruan tinggi — ada
sesuatu yang lebih dari sekadar transfer anggaran yang terjadi. Ada kontrak moral
yang ditandatangani: bahwa pengetahuan yang lahir dari proses itu tidak boleh
berhenti di laci meja kerja.
Namun realitasnya,
tidak sedikit laporan hibah yang berakhir sebagai dokumen administratif semata.
Luaran publikasi yang seharusnya menjadi jantung dari kontrak moral itu sering
kali diperlakukan sebagai formalitas terakhir — ditulis terburu-buru, dikirim
ke jurnal mana saja yang mau menerima, tanpa pertimbangan strategis tentang
dampak dan jangkauan.
Ini bukan tuduhan. Ini
adalah pengakuan kolektif atas sebuah sistem yang selama ini lebih menghargai
kuantitas kegiatan daripada kualitas diseminasi.
Dilema Nyata:
Antara Standar dan Keterjangkauan
Di sinilah kita perlu
berbicara jujur tentang sesuatu yang jarang dibahas secara terbuka di forum
akademik: tidak semua peneliti memiliki akses yang sama terhadap jurnal
bereputasi tinggi.
Jurnal terindeks SINTA
1 dan SINTA 2 — apalagi yang terindeks Scopus atau Web of Science — memang
menjadi impian setiap peneliti. Standarnya ketat, proses reviewnya panjang, dan
dampaknya tidak diragukan. Tetapi ada kenyataan lain yang tidak bisa diabaikan:
biaya Article Processing Charge (APC) di jurnal-jurnal tersebut bisa mencapai
jutaan hingga puluhan juta rupiah per artikel. Waktu tunggu review bisa memakan
enam bulan hingga satu tahun. Bagi peneliti muda, mahasiswa KKN, atau program
hibah dengan tenggat waktu pelaporan yang ketat, ini bukan sekadar tantangan —
ini adalah tembok.
Lalu apa yang harus
dilakukan? Apakah kita membiarkan pengetahuan itu tetap terkubur karena tidak
mampu membayar gerbang masuk jurnal bergengsi?
Tentu tidak. Dan di
sinilah peran jurnal-jurnal nasional bereputasi yang terjangkau menjadi sangat
strategis.
Ekosistem Jurnal
Nasional: Jembatan yang Selama Ini Diremehkan
Indonesia kini menjadi
negara kontributor terbesar jurnal open access di DOAJ per Maret 2025, dengan
lebih dari 2.473 jurnal terindeks secara internasional. Ini adalah pencapaian
luar biasa yang sayangnya jarang mendapat sorotan sebesar yang seharusnya. Di
balik angka itu, ada ratusan jurnal nasional yang bekerja keras membangun
standar editorial, sistem peer-review yang transparan, dan infrastruktur
digital yang semakin matang.
Beberapa jurnal
nasional yang relevan untuk luaran kegiatan pengabdian masyarakat, KKN, dan
hibah penelitian terapan — seperti AJAD: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
(SINTA 4), Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara atau JPMN (SINTA 4), Jurnal
Pengabdian Nasional atau JPN Indonesia (SINTA 5), PASAI: Jurnal Pengabdian
kepada Masyarakat (SINTA 5), KJPKM Kawanad: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
(SINTA 5), hingga BA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (belum terakreditasi
SINTA) — sesungguhnya mewakili sebuah ekosistem yang sedang tumbuh dan perlu
didukung, bukan diremehkan.
Memang, jika
dibandingkan dengan jurnal SINTA 1–3, jurnal-jurnal ini masih berada di level
yang lebih rendah dalam hierarki akreditasi nasional. Tidak ada yang perlu
disembunyikan dari fakta itu. Namun ada konteks penting yang sering luput dari
percakapan: untuk luaran KKN mahasiswa, program pengabdian berbasis hibah
dengan anggaran terbatas, atau penelitian terapan yang membutuhkan diseminasi
cepat, jurnal-jurnal ini adalah pilihan yang rasional, terjangkau, dan tetap
bermartabat.
Lebih dari itu,
jurnal-jurnal ini sedang dalam proses memperkuat dirinya. Sebagian besar telah
terindeks di Garuda, Google Scholar, Copernicus, CORE, dan BASE — dengan DOI
yang valid di setiap artikel. Yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama adalah
indeksasi DOAJ, yang jika berhasil dicapai, akan membuka pintu menuju
akreditasi SINTA yang lebih tinggi dan visibilitas internasional yang lebih
luas.
Mengapa Publikasi
Itu Penting, Bahkan untuk KKN Sekalipun?
Ada anggapan yang
perlu diluruskan: bahwa publikasi ilmiah hanya urusan dosen senior dan peneliti
berpengalaman. Bahwa mahasiswa KKN cukup membuat laporan akhir. Bahwa program
pengabdian cukup dibuktikan dengan foto kegiatan dan daftar hadir.
Anggapan ini tidak
hanya keliru — ia berbahaya.
Ketika seorang
mahasiswa KKN mendokumentasikan proses pendampingan petani organik di sebuah
desa terpencil dan mempublikasikannya di jurnal pengabdian masyarakat, ia tidak
sekadar memenuhi syarat akademik. Ia sedang menciptakan pengetahuan yang dapat
direplikasi — oleh mahasiswa lain, oleh pemerintah daerah, oleh LSM, oleh
siapapun yang menghadapi masalah serupa di tempat lain.
Ketika seorang dosen
mempublikasikan temuan program hibahnya — bahkan di jurnal SINTA 4 atau SINTA 5
sekalipun — ia sedang membangun fondasi pengetahuan lokal yang suatu hari bisa
menjadi referensi kebijakan. Pengetahuan lokal yang tidak didokumentasikan
adalah pengetahuan yang hilang. Dan pengetahuan yang hilang adalah kerugian
yang tidak pernah tercatat dalam laporan keuangan manapun, tetapi nyata
dampaknya bagi masyarakat.
Strategi yang
Realistis, Bukan yang Ideal
Idealisme memang
penting. Tetapi dalam konteks sistem publikasi akademik Indonesia yang sedang
berkembang, kita membutuhkan strategi yang realistis.
Bagi peneliti dan
dosen yang mengelola hibah dengan tenggat waktu pelaporan, pertimbangkan
pendekatan berlapis ini:
Pertama, gunakan
jurnal nasional terakreditasi SINTA 4–5 yang terjangkau dan responsif untuk
luaran wajib hibah. Ini bukan kompromi — ini adalah keputusan strategis yang
memastikan pengetahuan tetap terdiseminasi tepat waktu.
Kedua, jika kapasitas
dan anggaran memungkinkan, dorong sebagian temuan terbaik menuju jurnal SINTA
1–3 atau bahkan jurnal terindeks Scopus. Ini adalah investasi reputasi jangka
panjang yang tidak bisa diabaikan.
Ketiga, jangan abaikan
diseminasi populer. Artikel opini di media massa, konten edukatif di platform
digital, atau presentasi di seminar nasional adalah bentuk publikasi yang
sama-sama bermakna — dan sering kali menjangkau audiens yang jauh lebih luas daripada
jurnal akademik manapun.
Rekomendasi Jurnal:
Antara Idealisme dan Pragmatisme
Bagi peneliti yang
sedang mempertimbangkan pilihan jurnal untuk luaran hibah atau KKN, berikut
pertimbangan yang perlu dipikirkan secara matang:
Jurnal SINTA 1–3
memang menawarkan reputasi akademik yang solid dan sitasi yang lebih tinggi.
Namun perlu diingat: biaya APC bisa mencapai Rp 2–10 juta per artikel, waktu
review 4–12 bulan, dan tingkat penolakan mencapai 60–80 persen. Jurnal-jurnal
ini cocok untuk penelitian fundamental, disertasi, atau artikel unggulan.
AJAD: Jurnal
Pengabdian kepada Masyarakat dan Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara atau
JPMN — keduanya SINTA 4 — menawarkan alternatif yang sangat strategis. Biaya
APC berkisar Rp 0–1,5 juta per artikel, waktu review 2–4 bulan, dengan tingkat
penerimaan yang lebih moderat namun tetap melalui peer-review ketat. Keduanya
cocok untuk dosen yang membutuhkan publikasi untuk keperluan PAK, BKD, atau
kenaikan jabatan, serta luaran hibah pengabdian dan penelitian terapan.
AJAD, misalnya, telah
mencatat 327 sitasi di Google Scholar dengan DOI lengkap di setiap artikel.
JPMN bahkan masuk dalam Katalog Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nasional
yang diedarkan ke institusi-institusi pendidikan dan kesehatan di seluruh Indonesia.
Keduanya adalah pilihan yang rasional dan bermartabat untuk dosen yang
membutuhkan publikasi SINTA dengan tenggat waktu yang realistis.
Jurnal Pengabdian
Nasional atau JPN Indonesia, PASAI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, dan
KJPKM Kawanad: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat — ketiganya SINTA 5 —
menawarkan pintu masuk yang lebih terbuka. Biaya APC berkisar Rp 0–1 juta per
artikel, waktu review 1–3 bulan, dan cocok untuk mahasiswa KKN, dosen muda,
serta tim pengabdi dengan anggaran terbatas.
JPN Indonesia, dengan
1.142 sitasi di Google Scholar dan terbit 3 kali setahun, menawarkan
fleksibilitas jadwal yang lebih baik. Sementara PASAI dan KJPKM Kawanad,
meskipun relatif baru, telah menunjukkan konsistensi editorial yang patut
diapresiasi.
Adapun BA: Jurnal
Pengabdian kepada Masyarakat — meskipun memiliki ISSN valid dan DOI — belum
terakreditasi SINTA. Ini berarti jurnal tersebut tidak diakui untuk keperluan
PAK atau BKD dosen, dan tidak memenuhi syarat jika institusi mensyaratkan
publikasi ber-SINTA. Jurnal ini tetap legal secara formal untuk portofolio
mahasiswa tanpa syarat SINTA, namun sebaiknya dihindari untuk keperluan
akademik formal.
Pertimbangan Biaya
dan Waktu: Realitas yang Tidak Bisa Diabaikan
Mari kita berbicara
dengan angka yang konkret. Sebuah tim pengabdian masyarakat dengan hibah Rp 15
juta harus menghasilkan minimal satu artikel jurnal sebagai luaran wajib. Jika
mereka memaksakan diri mengirim ke jurnal SINTA 1 dengan APC Rp 5 juta dan waktu
review 8 bulan, ada dua risiko besar: sepertiga anggaran habis hanya untuk
publikasi, dan tenggat pelaporan hibah terlewat karena artikel belum terbit.
Bandingkan dengan
skenario alternatif: mengirim ke AJAD atau JPMN (SINTA 4) dengan APC Rp 750
ribu dan waktu review 3 bulan. Hasilnya: luaran hibah terpenuhi tepat waktu,
anggaran tersisa untuk kegiatan lapangan, artikel tetap terakreditasi dan
diakui secara nasional, dan dosen tetap mendapat poin PAK atau BKD yang sah.
Ini bukan tentang
menurunkan standar. Ini tentang memilih strategi yang sesuai dengan konteks dan
sumber daya yang tersedia.
Pengetahuan yang
Dibagikan Adalah Pengetahuan yang Hidup
Indonesia sedang
berada di persimpangan yang menarik dalam sejarah akademiknya. Di satu sisi,
tekanan untuk menghasilkan publikasi bereputasi internasional semakin besar. Di
sisi lain, ada ribuan peneliti, dosen, dan mahasiswa yang setiap hari
menghasilkan pengetahuan berharga dari lapangan — dari desa-desa, dari
klinik-klinik, dari pasar-pasar tradisional — yang belum menemukan jalan untuk
sampai ke publik.
Menjembatani dua dunia
ini bukan tugas yang mudah. Tetapi ia adalah tugas yang tidak bisa ditunda.
Jurnal-jurnal nasional
yang sedang tumbuh — seperti AJAD, JPMN, JPN Indonesia, PASAI, dan KJPKM
Kawanad — adalah infrastruktur pengetahuan yang sedang kita bangun bersama.
Mereka bukan jurnal kelas dua. Mereka adalah jembatan yang memungkinkan
pengetahuan dari lapangan sampai ke ruang publik, tanpa harus menunggu
bertahun-tahun atau menghabiskan anggaran yang tidak proporsional.
Yang kita butuhkan
sekarang adalah kesadaran kolektif bahwa setiap laporan yang dijilid dan
disimpan di rak adalah peluang yang terlewat — dan bahwa setiap artikel yang
diterbitkan, di jurnal manapun yang terakreditasi, adalah batu bata yang
membangun peradaban pengetahuan bangsa ini.
Pengetahuan yang tidak
dibagikan adalah pengetahuan yang mati. Dan bangsa yang membiarkan
pengetahuannya mati, lambat laun, akan kehilangan kemampuannya untuk belajar
dari dirinya sendiri.