GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Quiet Breaking Down” - Fenomena Tampak Baik-Baik Saja tapi Sebenarnya Tidak pada Mahasiswa

Paskalia Revita, Mahasiswi Jurusan Psikologi di Universitas Katolik Musi Charitas.(Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Kolom - Di lingkungan kampus, mahasiswa yang mengalami kesulitan psikologis sering kali dibayangkan sebagai mereka yang nilainya turun drastis, jarang masuk kelas, atau menarik diri dari pergaulan. Namun, tidak semua tekanan mental terlihat jelas di permukaan. Ada mahasiswa yang tetap datang kuliah, aktif organisasi, responsif di grup, bahkan berprestasi, tetapi diam-diam merasa lelah secara emosional, kosong, dan kewalahan. Fenomena ini dapat dipahami sebagai quiet breaking down, yaitu kondisi ketika seseorang tampak baik-baik saja dari luar, padahal di dalam dirinya sedang terjadi pergulatan psikologis yang tidak terlihat.

Mahasiswa yang mengalami kondisi ini biasanya tetap menjalankan perannya dengan baik, tetapi dengan beban batin yang semakin berat. Mereka terbiasa menekan perasaan sedih, marah, kecewa, atau lelah demi tetap terlihat kuat dan mampu. Senyum, tawa, dan keaktifan sosial sering menjadi “lapisan luar” yang menutupi kelelahan emosional di dalam. Karena fungsi akademik dan sosialnya masih berjalan, lingkungan sekitar jarang menyadari bahwa individu tersebut sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, mereka sendiri kadang kesulitan mengakui bahwa dirinya sedang membutuhkan bantuan.

Kondisi ini tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan konteks kehidupan mahasiswa masa kini. Budaya produktivitas membuat kesibukan seolah menjadi ukuran nilai diri. Mahasiswa didorong untuk terus aktif, mengambil banyak peran, dan memaksimalkan setiap peluang. Di sisi lain, beristirahat sering memunculkan rasa bersalah, seolah-olah berhenti sejenak berarti tertinggal. Tekanan ini diperkuat oleh media sosial yang menampilkan pencapaian orang lain secara terus-menerus. Melihat teman sebaya terlihat sukses, sibuk, dan bahagia dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, takut gagal, atau khawatir dianggap kurang berprestasi. Akibatnya, banyak mahasiswa memilih menyembunyikan kesulitannya dan tetap menjaga citra bahwa semuanya terkendali.

Faktor budaya juga berperan besar. Dalam banyak keluarga dan lingkungan sosial, terutama yang menekankan ketahanan dan pengorbanan, mengeluh atau menunjukkan kesedihan sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Mahasiswa mungkin merasa tidak pantas merasa lelah karena membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap memiliki masalah lebih berat. Pola pikir seperti ini mendorong penekanan emosi secara terus-menerus. Perasaan tidak diberi ruang untuk dipahami dan diproses, sehingga hanya disimpan sendirian.

Secara psikologis, quiet breaking down dapat berkaitan dengan kelelahan emosional, perasaan hampa, kehilangan makna dalam aktivitas sehari-hari, serta keraguan terhadap diri sendiri meskipun memiliki pencapaian yang baik. Sebagian mahasiswa mungkin merasa seperti “berpura-pura kuat”, seolah ada jarak antara diri yang ditampilkan kepada orang lain dan diri yang sebenarnya dirasakan. Ketidaksesuaian ini bisa menimbulkan rasa sepi secara emosional, karena mereka merasa tidak benar-benar dikenal oleh orang di sekitarnya.

Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya bisa semakin berat. Emosi yang terus ditekan dapat meningkatkan stres, mengganggu kualitas tidur, menurunkan kesejahteraan psikologis, dan pada akhirnya memicu gangguan yang lebih serius. Ironisnya, karena individu masih terlihat berfungsi, ia sering tidak dianggap membutuhkan bantuan. Hal ini menunjukkan bahwa performa akademik dan keaktifan sosial tidak selalu mencerminkan kondisi mental yang sehat.

Fenomena quiet breaking down menjadi pengingat bahwa kesejahteraan mahasiswa tidak bisa dinilai hanya dari seberapa sibuk, aktif, atau berprestasi mereka. Lingkungan kampus perlu menyediakan ruang yang aman bagi mahasiswa untuk jujur tentang kondisi emosionalnya tanpa takut dihakimi. Edukasi mengenai kesehatan mental juga penting agar mahasiswa memahami bahwa merasa lelah, sedih, atau kewalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari pengalaman manusia yang perlu dikenali dan ditangani. Dengan pendekatan yang lebih peka dan suportif, mahasiswa tidak hanya didorong untuk terus berfungsi, tetapi juga didukung untuk benar-benar merasa baik secara psikologis.


*) Penulis adalah Paskalia Revita, Mahasiswi Jurusan Psikologi di Universitas Katolik Musi Charitas.

Komentar0

Type above and press Enter to search.