GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Bagaimana Ekonomi Bisa Memengaruhi Perkembangan Kognitif

Ilustrasi - Potret Kemiskinan Ibu Kota di Tengah Pandemi (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Suara Time, Opini
- Status ekonomi yang rendah secara sekilas memengaruhi perkembangan kognitif anak. Kondisi tersebut memaksa akses terhadap nutrisi dan stimulasi menjadi terbatas. Hal ini berdampak pada struktur otak seperti volume korteks dan hipokampus lebih rendah sejak masa bayi.

Studi neuroimaging menunjukkan bahwa anak dari keluarga miskin memiliki volume korteks abu-abu dan subcortical lebih rendah pada bayi usia 0-1 bulan dan bayi 8-12 bulan, dengan pertumbuhan volume frontal serta parietal lebih lambat secara berkala. Hal ini terkait proses seluler seperti mielinasi dan sinaptogenesis yang terhambat akibat kurang stimulasi sensorik, menghasilkan ketebalan korteks rata-rata lebih tinggi pada beberapa kasus tapi volume keseluruhan lebih kecil.

Kecenderungan ini menandakan pola perkembangan yang tertunda atau berbeda, bukan percepatan. Dari perspektif neuroscience, defisit ini muncul karena kurangnya pengalaman kaya (enriched environment) yang krusial untuk proliferasi dendrit dan pembentukan jalur saraf baru selama critical period infancy.

Selama masa kanak-kanak hingga remaja, low-SES (penurunan status sosial ekonomi) dikaitkan dengan tingkat perubahan lebih lambat pada volume hipokampus dan korteks, termasuk penipisan korteks yang lebih pelan serta pertumbuhan subkortikal yang terhambat. fMRI dan MRI longitudinal mengonfirmasi hipokampus lebih kecil pada anak miskin, dimediasi oleh stres kronis yang mengubah neurogenesis dan konektivitas amigdala-mPFC, mengurangi regulasi emosi serta fungsi eksekutif.

Lingkungan yang kurang mendukung bisa mempercepat penuaan otak prediksi tapi secara keseluruhan menghasilkan kecenderungan yang lebih lambat. Secara spesifik, striatum pada anak low-SES menunjukkan responsivitas lebih rendah terhadap reward processing, terlihat dari aktivasi fMRI yang lemah saat tugas berhadiah uang, yang memengaruhi motivasi belajar dan pengambilan keputusan jangka panjang.

Lebih lanjut, analisis voxel-based morphometry (VBM) mengungkapkan pengurangan grey matter density di prefrontal cortex (PFC) dan temporal lobe, wilayah utama untuk working memory dan bahasa, yang berkorelasi dengan skor IQ rendah 6-13 poin dibanding kelompok high-SES. Stres kortisol kronis dari kemiskinan mengganggu HPA axis, menekan BDNF (brain-derived neurotrophic factor) yang esensial untuk neuroplasticity, sehingga menghambat synaptic pruning yang efisien. Di negara berkembang seperti Bangladesh, efek ini diperparah malnutrisi yang mengurangi myelin sheath formation, menyebabkan konektivitas white matter tract (seperti arcuate fasciculus) lebih tipis dan lambat matang hingga usia sekolah.

Kesenjangan ini menekankan perlunya penanganan dini seperti nutrisi kaya omega-3 dan stimulasi kognitif untuk mendukung efisiensi sinaptik serta plastisitas saraf. Penelitian pada tahun 2023-2025 menyarankan program parenting responsif untuk meminimalkan kekurangan dalam pembangunan fisik otak, terutama di LMICs di mana efek lebih parah. Intervensi seperti brain-training games dan enriched preschool environment terbukti meningkatkan volume hipokampus hingga 5-8 persen dalam 6 bulan, membalik sebagian defisit struktural melalui enhanced Hebbian learning dan long-term potentiation (LTP).

Dengan demikian, temuan neuroimaging secara konsisten menunjukkan bahwa status ekonomi rendah (low-SES) menghasilkan defisit struktural dan penundaan perkembangan saraf (seperti volume korteks dan hipokampus yang lebih rendah) pada anak sejak usia dini, dipicu oleh stres kronis dan keterbatasan stimulasi lingkungan. Oleh karena itu, kesenjangan perkembangan yang kritis ini secara tegas menuntut intervensi dini dan terstruktur, meliputi dukungan nutrisi kaya omega-3 dan program parenting responsif, untuk mengoptimalkan efisiensi sinaptik dan plastisitas saraf, terutama di LMICs, demi membalik sebagian defisit fisik otak anak dan menjamin hasil kognitif jangka panjang yang lebih baik. 

Referensi:

  • Bates, T. C., Maher, B. S., Medland, S. E., McAloney, K., Wright, M. J., Hansell, N. K., Kendler, K. S., Martin, N. G., & Gillespie, N. A. (2020). Cognitive and brain development is independently influenced by socioeconomic status and polygenic scores for educational attainment. Proceedings of the National Academy of Sciences, 117(26), 14999--15004. https://doi.org/10.1073/pnas.2001228117
  • Hair, N. L., Hanson, J. L., Wolfe, B. L., & Pollak, S. D. (2023). Childhood socioeconomic status and the pace of structural brain development. Development and Psychopathology, 35(5), 1--12. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10524122/
  • Nahar, B., Hamadani, J. D., Marcusson, J., & Grantham-McGregor, S. (2024). Trajectories and social determinants of child cognitive development: A longitudinal study from rural Bangladesh. The Lancet Child & Adolescent Health, 8(12), 856--865. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(24)00234-5[13]
  • Purnamasari, I., & Sari, D. P. (2025). Literasi finansial terhadap nilai mata uang dalam meningkatkan kognitif anak usia dini. Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 123--135. https://murhum.ppjpaud.org/index.php/murhum/article/view/1260
  • Raschle, N. M., Becker, B., Maurer, M., & Gerdes, A. B. (2023). Socioeconomic status moderates neural markers of inhibitory control in children. NeuroImage, 285, Article 120478. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11149893/
  • Sari, N. K., & Pratiwi, R. (2024). Apakah jam kerja orang tua dan kondisi sosial-ekonomi mempengaruhi perkembangan kognitif anak? JUREKSI: Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan, 5(1), 45--56. https://jurnal.stikes-ibnusina.ac.id/index.php/JUREKSI/article/view/2530
  • Wang, Y., Zhang, L., Li, X., & Chen, H. (2025). The role of socioeconomic status in shaping associations between early adversity and brain development. Translational Psychiatry, 15(1), Article 89. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11987642/

 ***

*) Penulis adalah Daffa Zaky Bayu Pradana, Mahasiswa s1 Psikologi Universitas Brawijaya

Komentar0

Type above and press Enter to search.