![]() |
| Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Kolom - Asap kembali menyelimuti Kalimantan, langit biru berubah gelap dan kelam, orang menilai persoalan itu berhenti di perbatasan Indonesia saja. Padahal faktanya, kabut asap dari kebakaran hutan tidak mengenal arah. Ia bergerak terbawa angin, masuk ke paru – paru jutaan manusia tanpa bisa dicegah, membuat asma kambuh dan napas menjadi tidak terarah.
Mengganggu penerbangan dan perdagangan, lalu menambah beban emisi karbon yang mempercepat krisis iklim alam. Dengan demikian, Kalimantan bukan sekadar lokasi bencana tetapi ia adalah titik penentu kualitas udara, kesehatan, dan masa depan iklim dunia.
Menurut publikasi Humanities and Social Sciences Communications menegaskan bahwa asap dari kebakaran gambut Kalimantan merupakan penyebab utama polusi kebut asap lintas batas di Kawasan Asia Tenggara.
Asap kebakaran tersebut mengandung karbon monoksida, oksida nitrogen, oksida sulfur, senyawa organik, serta partikel halus PM 2.5 yang terbawa hingga ratusan kilometer dari titik api. Artinya, kebakaran di Kalimantan dapat berubah menjadi krisis kesehatan publik di negara - negara tetangga. Ironisnya, keseriusan pemerintah tampaknya masih kesulitan menyeberangi meja rapatnya.
Lihatlah anak – anak kecil itu, batuknya pecah di pelukan ibunya. Lihatlah warga yang berjalan dengan masker setiap hari, seolah bernapas pun menjadi sebuah perjuangan. Apakah pemerintah tidak melihat semuanya? Atau penderitaan rakyat hanya terlihat ketika kamera sudah menyala?
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, lonjakan PM 2.5 menunjukkan kondisi bukan sekadar “berkabut” namun kondisi udara beracun. Kebakaran ektrem, meningkatkan konsentrasi PM 2.5 hingga 10 sampai 20 kali lebih tinggi dari pedoman kualitas udara WHO. Tahun 2026, ISPU udara Palangka Raya mencapai 414, kategori berbahaya, bukan sekadar kabut yang datang.
Pada 7 Oktober, angka partikulat menembus batas yang lekat. Seribu empat ratus tercatat jelas, tanda udara beracun, bukan sekadar asap yang lepas.
Kebakaran hutan di Kalimantan bukan hanya bencana lingkungan, tetapi juga menjadi tamparan bagi pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Kabut asap melumpuhkan aktivitas ekonomi, penerbangan tertunda, jalur transportasi terganggu, pariwisata merosot, bahkan anak-anak harus kehilangan waktu belajar karena sekolah terpaksa ditutup.
Ironis, di tengah gencarnya pemerintah berbicara tentang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, hutan yang menjadi sumber kehidupan justru terus terancam oleh kebakaran dan kerusakan lingkungan.
Data akumulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng periode 1 Januari hingga 29 September 2026 pukul 18.00 WIB mencatat sebanyak 4.512 kejadian karhutla dengan total luas area terbakar mencapai 14.989,41 hektare. Aktivitas titik panas juga berada pada angka sangat tinggi. Sepanjang periode tersebut, pemantauan menunjukkan terdapat 189.824 hotspot yang tersebar di berbagai wilayah Kalteng, yang mengancam habitat orangutan.
Orangutan juga makhluk hidup yang mendambakan tempat tinggal yang nyaman. Ia ingin hidup dengan tenang di antara rimbunnya pepohonan, sebagaimana kita ingin berlindung di bawah hangatnya sebuah bangunan.
Namun, ketika hutan dibakar dan pohon-pohon tumbang, ke mana lagi ia harus pulang? Jika kita berhak memiliki rumah untuk berteduh, bukankah mereka juga berhak memiliki hutan untuk hidup?”
Angka-angka kejadian karhutla ini menunjukkan bahwa bencana tidak berhenti pada satu titik api atau satu kabupaten saja. Dan hal ini harus menjadi salah satu fokus pemerintah untuk mencari solusi dan cara menanggulanginya.
Namun, respons pemerintah sering kali berhenti pada pernyataan, kunjungan lapangan, dan harapan akan hujan. Rakyat tidak meminta keajaiban, mereka meminta pencegahan, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, pembukaan data investigasi, serta penanganan kesehatan.
Asap boleh hilang ketika hujan datang, tetapi kelalaian tidak akan hilang hanya karena berita mulai mereda. Jika pemerintah terus menunggu langit membantu, sementara bumi terus terbakar, maka yang ikut terbakar bukan hanya hutan Kalimantan, melainkan kepercayaan rakyat dan reputasi Indonesia di mata dunia.
Penulis: Serellia Yeska Alfinia, Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
REFERENSI
Kompas. “Area Karhutla Kalteng Hampir 15 Ribu Hektare, Hotspot 189 Ribu Titik”
https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8685717/area-karhutla-kalteng-hampir-15-ribu-hektare-hotspot-189-ribu-titik.
Kompas. “Asap karhutla dari Kalimantan mulai masuk wilayah Jakarta, begini penjelasan pakar”
https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/asap-karhutla-dari-kalimantan-mulai-masuk-wilayah-jakarta-begini-penjelasan-pakar/ar-AA2eplbM
The Borneo Post. “Kualitas Udara Berbahaya Masih Melanda Kalimantan dan Sumatra, Indonesia.” 2026.
AP News. “Kabut Asap Tebal Mengganggu Penerbangan di Pulau Kalimantan, Indonesia.” 2026.
