| Ilustrasi |
Oleh : Dini Damayanti (Mahasiswa PPKn Universitas Pamulang)
Suaratime, Opini - Sering kali, saat berjalan di
koridor sekolah maupun melintasi ruang-ruang kelas, saya mendengar
istilah-istilah unik seperti "orang have", "delulu", hingga
"rizz" diucapkan oleh para siswa. Istilah yang semula meramaikan linimasa
TikTok dan Threads tersebut kini merembes masuk ke dalam interaksi edukatif
sehari-hari. Fenomena ini memancing sebuah pertanyaan mendalam bagi saya dan
para pendidik: sejauh mana penggunaan bahasa viral dapat dimanfaatkan sebagai
strategi pengajaran tanpa mengorbankan pembentukan karakter serta kaidah
berbahasa siswa Generasi Z dan Generasi Alpha?
Kemudahan masuknya bahasa gaul ini
ke lingkungan sekolah bukanlah hal yang mengejutkan. Secara psikolinguistik,
integrasi istilah populer dalam kegiatan pemantik terbukti ampuh menurunkan
hambatan afektif dan kecemasan siswa dalam belajar. Ketika guru menggunakan
teknik pemantik yang relevan dengan dunia digital siswa, suasana kelas yang
semula kaku dan pasif seketika berubah menjadi dinamis. Keterlibatan verbal
meningkat, dan relasi interpersonal antara guru dan murid menjadi jauh lebih
akrab.
Namun, di balik kehangatan interaksi
tersebut, saya menyadari ada risiko sistemik yang mengintai akibat mekanisme
algoritma media sosial, khususnya fitur For You Page (FYP). Konsumsi media
digital yang terfragmentasi membentuk ruang gema yang memicu polarisasi
pemikiran serta menggeser nilai sosial siswa dari orientasi kolektif menuju
individualisme. Lahirnya seloroh seperti "orang have" yang
menggambarkan seseorang dengan gaya hidup serba ada secara tidak langsung
mencerminkan menguatnya budaya konsumerisme dan komparasi status ekonomi di
kalangan remaja. Apabila guru menggunakan istilah-istilah ini secara
sembarangan tanpa memberikan narasi kritis, hal tersebut justru dapat
melegitimasi pola pikir stereotipikal dan memperjelas jurang sosial
antar-siswa.
Selain berdampak pada karakter,
ketergantungan pada bahasa slang media sosial juga nyata-nyata menurunkan
kualitas penguasaan Bahasa Indonesia baku. Banyak siswa kini kesulitan
merangkai kalimat akademik yang runtut dan logis. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka,
pendidik dituntut bijak dengan menerapkan strategi alih kode yang terencana.
Bahasa viral cukup dijadikan jembatan awal untuk menarik perhatian atau
menjelaskan konsep abstrak. Setelah keterikatan belajar terbangun, guru harus
segera mengarahkan kembali fokus komunikasi menggunakan tata bahasa yang formal
dan terstruktur.
Melihat kenyataan ini, saya makin yakin bahwa menjaga pembentukan karakter dan kesadaran berbahasa siswa adalah tugas moral kita bersama. Pengelolaan bahasa di lingkungan sekolah membutuhkan sinergi kuat dalam Tri Pusat Pendidikan meliputi sekolah yang menetapkan standar komunikasi akademik, orang tua yang memantau eksposur media sosial anak di rumah, serta kebijakan lembaga pendukung. Dengan pendekatan yang adaptif dan bernalar kritis, kita dapat memanfaatkan fenomena bahasa viral untuk menguatkan literasi digital sekaligus menjaga martabat Bahasa Indonesia baku dan nilai kebersamaan bangsa.
Daftar Pustaka
E-Jurnal UNISDA. (2024). Bahasa Gaul Pada Media Sosial Siswa Sekolah Dasar. LISTRA: Jurnal Bahasa dan Sastra. Akses online: https://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/LISTRA/article/download/9479/4082/
Beautynesia. (2024). 3 Istilah Gaul ala Gen Z untuk Menggambarkan Kondisi Finansial. Rubrik Life Beautynesia. Akses online: https://www.beautynesia.id/life/3-istilah-gaul-ala-gen-z-untuk-menggambarkan-kondisi-finansial/b-322465
ResearchGate. (2025). Penggunaan Metode Ice Breaking dalam Keterampilan Speaking Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris di MTs Nurul Yaqin. Publikasi Ilmiah ResearchGate. Akses online: https://www.researchgate.net/publication/395332220_Penggunaan_Penggunaan_Metode_Ice_Breaking_dalam_Keterampilan_Speaking_Pada_Mata_Pelajaran_Bahasa_Inggris_di_Mts_Nurul_Yaqin
Ruang Publikasi. (2024). Individualisme di Kalangan Mahasiswa di Era Digital dan Dampaknya. Jurnal JPIM Ruang Publikasi. Akses online: https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/download/1207/1014/3679
Bidik Utama. (2025). Gen Z dan Gen Alpha Perlu Peduli Bahasa Indonesia Baku. Rubrik Opini Akademik. Akses online: https://bidikutama.com/akademik/opini/gen-z-dan-gen-alpha-perlu-peduli-bahasa-indonesia-baku/