GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Mahasiswa KKN-T IBDU 3 UNDIP Serahkan Peta Kerawanan Tanah Longsor Desa Wates kepada Kepala Desa Wates

Penyerahan Peta Peta Kerawanan Tanah Longsor dengan Overlay Kebun Kopi Desa Wates. (Foto: Dok/Ist). 

Suara Time, Wates Peta hasil riset mahasiswa KKN-T UNDIP diserahkan kepada Kepala Desa Wates. Sebuah peta tidak sekadar menggambarkan wilayah, tetapi juga dapat menjadi cermin dari potensi risiko yang ada di sebuah desa. 

Pemikiran itulah yang mendasari penyusunan peta tematik yang disusun oleh Mega Dwi Irianti, mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, sebagai bagian dari program kerja multidisiplin KKN-T IDBU 3 UNDIP di Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Peta tersebut, yakni "Peta Kerawanan Tanah Longsor dengan Overlay Kebun Kopi Desa Wates", secara resmi diserahkan kepada Kepala Desa Wates sebagai salah satu luaran program kerja mahasiswa KKN-T IDBU 3 UNDIP yang berlokasi di Balai Desa Wates.

Peta Kerawanan Tanah Longsor: Pendekatan Geologi untuk Mitigasi Bencana

Peta ini, sebagai program kerja multidisiplin 1, disusun dengan pendekatan keilmuan geologi, memetakan tingkat kerawanan tanah longsor di seluruh wilayah Desa Wates yang dibagi ke dalam empat kategori, yaitu Sangat Rawan, Rawan, Cukup Rawan, dan Tidak Rawan. Peta ini disusun dengan skala 1:25.000 dengan sumber data dari peta lembar Kabupaten Semarang serta data DEMNAS Jawa Tengah.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa wilayah utara desa, khususnya sekitar Dusun Kedayon dan sebagian Wates, serta wilayah barat di sekitar Dusun Sranti dan Banaran, termasuk dalam kategori sangat rawan hingga rawan longsor. Sebaliknya, wilayah timur seperti Dusun Gedad dan Jurug relatif lebih aman karena masuk kategori cukup rawan hingga tidak rawan. Peta ini juga dioverlay dengan titik-titik kebun kopi warga, sehingga dapat menjadi acuan bagi masyarakat maupun pemerintah desa dalam mempertimbangkan mitigasi risiko di area budidaya kopi.

Mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Penyusunan peta ini tidak lepas dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action), yang menekankan pentingnya aksi nyata dalam menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk peningkatan risiko bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor. Melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG), program ini berupaya menghadirkan informasi spasial yang aplikatif sebagai dasar mitigasi bencana sekaligus pengelolaan lahan perkebunan kopi yang lebih berkelanjutan, sejalan dengan semangat SDG 13 untuk memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptif masyarakat terhadap bahaya terkait iklim.

Dengan mengetahui wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi, masyarakat dan pemerintah desa diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif, baik dalam bentuk penataan pola tanam, penguatan lereng, maupun perencanaan tata ruang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim ke depannya. Peta kerawanan longsor yang dioverlay dengan persebaran kebun kopi ini juga menjadi dasar informasi spasial bagi upaya mitigasi bencana sekaligus pengelolaan lahan perkebunan kopi secara berkelanjutan, dua hal yang saling terkait erat di wilayah yang topografinya rawan pergerakan tanah seperti Desa Wates.

Untuk memudahkan akses informasi secara lebih lengkap, peta kerawanan longsor ini turut dilengkapi dengan QR Code yang menautkan pada versi digital interaktif, serta dicetak dalam bentuk figura agar dapat dipajang dan menjadi media informasi permanen di Balai Desa Wates. Diharapkan, peta ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi hasil riset mahasiswa, tetapi juga menjadi alat bantu jangka panjang bagi Pemerintah Desa Wates dalam merumuskan kebijakan mitigasi bencana dan pengelolaan lahan kebun kopi yang berkelanjutan, sebagai kontribusi nyata terhadap pencapaian SDG 13 di tingkat desa.

Type above and press Enter to search.