![]() |
| Ilustrasi Influencer Media Sosial, Dok. istockphoto.com |
Penulis : Imelda Oktavia Effendi - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Media Sosial Mengajarkan Siapa Kita
"Tidak semua orang
kehilangan jati dirinya karena kegagalan. Sebagian justru kehilangannya karena
terlalu sibuk menjadi seperti orang lain."
Membuka media sosial hari
ini hampir selalu diawali dengan pemandangan yang sama. Influencer
membagikan perjalanan ke luar negeri, gaya hidup mewah, pencapaian karier di
usia muda, rutinitas olahraga, hingga kehidupan yang tampak begitu sempurna.
Dalam hitungan detik, berbagai konten tersebut memenuhi beranda dan terus
muncul mengikuti algoritma media sosial. Tanpa disadari, apa yang awalnya hanya
menjadi hiburan perlahan berubah menjadi standar kehidupan yang dianggap ideal.
Fenomena influencer
telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Kehadiran mereka membawa
banyak manfaat, mulai dari berbagi pengetahuan, membangun bisnis digital,
mengembangkan kreativitas, hingga menginspirasi jutaan orang. Namun, di balik
berbagai manfaat tersebut, muncul tantangan yang tidak kalah besar, yaitu
ketika kehidupan para influencer dijadikan tolok ukur keberhasilan
hidup.
Tidak sedikit orang mulai
membandingkan dirinya dengan kehidupan yang mereka lihat setiap hari di media
sosial. Ketika melihat seseorang seusia telah memiliki rumah, kendaraan, dan karier
yang cemerlang, muncul pertanyaan dalam diri, "Mengapa hidupku belum
seperti itu?". Padahal, media sosial hanya menampilkan bagian terbaik
dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita yang penuh dengan
perjuangan, kegagalan, maupun tantangan. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa
media sosial tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tetapi juga
memengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri.
Self Concept
Tidak Dibangun dari Banyaknya Likes
Konsep diri (self
concept) merupakan cara seseorang mengenali, memahami, dan menilai dirinya
sendiri. Konsep diri menentukan bagaimana seseorang memandang kemampuan yang
dimiliki, menerima kekurangan, mengambil keputusan, serta menjalin hubungan dengan
orang lain. Ketika seseorang memiliki konsep diri yang positif, ia akan lebih
percaya pada kemampuannya dan tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi
tantangan. Sebaliknya, konsep diri yang negatif membuat seseorang mudah merasa
rendah diri, pesimis, serta bergantung pada penilaian orang lain.
Dalam pemaparannya
mengenai Self Concept, Dr. Abdul Wahid Maktub menjelaskan bahwa konsep
diri terbentuk melalui pengalaman hidup dan interaksi dengan lingkungan. Cara
seseorang memandang dirinya tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi
oleh orang-orang yang dianggap penting (significant others). Selain itu,
konsep diri terdiri atas dua komponen utama, yaitu aspek kognitif yang
berkaitan dengan citra diri (self-image) dan aspek afektif yang
berkaitan dengan penghargaan terhadap diri sendiri (self-esteem). Kedua
aspek tersebut menjadi dasar dalam membentuk perilaku dan cara seseorang
menjalani kehidupannya.
Jika dahulu lingkungan
rumah dan sekolah menjadi pihak yang paling banyak memengaruhi konsep diri,
kini media sosial menghadirkan bentuk significant others yang baru. Influencer
yang bahkan tidak dikenal secara pribadi dapat menjadi sosok yang
memengaruhi cara seseorang menilai dirinya. Melalui konten yang terus muncul
setiap hari, media sosial membentuk persepsi mengenai seperti apa tubuh
yang ideal, pekerjaan yang dianggap sukses, gaya hidup yang dipandang keren,
hingga ukuran kebahagiaan yang seolah harus dimiliki semua orang.
Human Literacy
Mengajarkan untuk Mengenal Diri
Perspektif Human
Literacy mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi,
melainkan pribadi yang memiliki martabat, potensi, dan nilai yang unik.
Teknologi memang berkembang sangat cepat, tetapi perkembangan tersebut
seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya
sendiri.
Media sosial pada
dasarnya hanyalah alat. Dampak yang ditimbulkan bergantung pada cara manusia
menggunakannya. Ketika media sosial dimanfaatkan sebagai ruang belajar, berbagi
inspirasi, dan membangun relasi yang positif, teknologi akan menjadi sarana
pengembangan diri. Namun, ketika media sosial hanya digunakan untuk mencari
pengakuan dan membandingkan kehidupan dengan orang lain, teknologi justru dapat
melemahkan konsep diri.
Human Literacy
menempatkan kemampuan memahami diri sebagai salah satu kompetensi penting di
era digital. Mengenali potensi, menerima kekurangan, berpikir kritis terhadap
informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh standar kehidupan yang dibangun
media sosial merupakan bentuk kedewasaan dalam menggunakan teknologi.
Menjadi Diri Sendiri di
Tengah Arus Media Sosial
Media sosial tidak harus
dihindari, tetapi perlu digunakan secara bijaksana agar tidak memengaruhi cara
seseorang memandang dirinya. Langkah pertama adalah menyadari bahwa konten yang
dibagikan influencer umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan,
sehingga tidak layak dijadikan standar untuk menilai diri sendiri.
Selain itu, penting untuk
mengenali potensi, menerima kelebihan dan kekurangan, serta memiliki tujuan
hidup yang jelas. Konsep diri yang kuat akan membuat seseorang lebih percaya
diri dan tidak mudah bergantung pada likes, followers, atau
penilaian orang lain. Memilih konten yang memberikan inspirasi dan membatasi
kebiasaan membandingkan diri juga menjadi cara sederhana untuk menjaga
kesehatan mental di era digital.
Pada akhirnya, media
sosial seharusnya menjadi sarana untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan
potensi, bukan tempat mencari validasi. Ketika seseorang mampu mengenal dan
menghargai dirinya sendiri, perkembangan teknologi tidak akan menggeser
identitas maupun nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya.
Referensi
Maktub, A. W. (2021). Estetika
Humanisme - Self Concept. Video pembelajaran Universitas Siber Asia.
Rakhmat, J. (2009). Psikologi
Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.
Rosanah. (2026). Modul
Mata Kuliah Estetika Humanisme: Self Concept (Konsep Diri). Universitas
Siber Asia.
Rosanah. (2026). Estetika
Humanisme Part 3: Self Concept (Konsep Diri). Universitas Siber Asia.
