GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Ibu-Ibu Majelis Bergerak, Desa Berdaya: Kisah Pemberdayaan Masyarakat dalam BERDIKARI 2026

Kehadiran ibu-ibu majelis memberikan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan Bakti Sosial (Baksos) BERDIKARI 2026. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Sukabumi — Upaya membangun masyarakat yang mandiri dan berdaya tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat melalui kebersamaan, kepedulian, serta kemauan untuk terlibat. Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan BERDIKARI 2026 di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, yang turut melibatkan ibu-ibu majelis sebagai bagian penting dari gerakan pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran ibu-ibu majelis memberikan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan Bakti Sosial (Baksos) BERDIKARI 2026. Keterlibatan mereka tidak sekadar sebagai peserta, tetapi menjadi bagian dari proses membangun kebersamaan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran aktif dalam kehidupan desa.

Selama ini, majelis kerap dikenal sebagai ruang berkumpul warga untuk mempererat silaturahmi dan memperdalam pemahaman keagamaan. Namun, lebih dari itu, majelis memiliki potensi besar sebagai ruang bertukar gagasan, membangun kepedulian, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, pendidikan, hingga pengembangan potensi lokal.

Baksos Menjadi Ruang Tumbuhnya Pemberdayaan

Melalui kegiatan Baksos dalam program BERDIKARI 2026, ruang partisipasi masyarakat semakin terbuka. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga didorong untuk mengenali potensi yang dimiliki serta mengambil bagian dalam menentukan langkah perubahan.

Pendekatan tersebut membuat pemberdayaan masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau program jangka pendek. Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama yang memiliki peran dalam membangun lingkungan dan desanya sendiri.

Bagi ibu-ibu majelis, keterlibatan dalam kegiatan BERDIKARI menjadi kesempatan untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian sosial. Semangat gotong royong, berbagi pengalaman, menjaga lingkungan, serta saling mendukung menjadi bukti bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perempuan memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Kedekatan ibu-ibu dengan keluarga dan lingkungan sosial membuat mereka memiliki ruang pengaruh yang besar dalam menanamkan kebiasaan positif, membangun kepedulian, serta mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengembangkan potensi lokal.

Perempuan dan Kekuatan Gerakan dari Lingkungan Desa

Keterlibatan ibu-ibu majelis dalam BERDIKARI 2026 juga menunjukkan bahwa pembangunan desa membutuhkan partisipasi berbagai kelompok masyarakat. Perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, melainkan dapat menjadi penggerak yang ikut menciptakan perubahan.

Dari lingkungan keluarga, misalnya, nilai kepedulian terhadap kebersihan, gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan semangat untuk saling membantu dapat terus ditanamkan. Ketika nilai tersebut berkembang dalam keluarga, dampaknya dapat meluas ke lingkungan masyarakat.

Majelis pun dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk menjaga keberlanjutan gerakan tersebut. Pertemuan yang rutin dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga untuk berdiskusi mengenai kebutuhan masyarakat, mengidentifikasi persoalan desa, berbagi informasi, serta merancang kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata.

Dengan demikian, keberadaan majelis dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.

Mahasiswa dan Masyarakat Saling Belajar

BERDIKARI 2026 tidak berhenti pada pelaksanaan berbagai kegiatan selama program berlangsung. Kehadirannya menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dan masyarakat untuk saling belajar, bertukar pengalaman, sekaligus membangun semangat kolaborasi.

Interaksi tersebut memberikan pemahaman bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga. Sementara itu, mahasiswa dapat berkontribusi melalui gagasan, tenaga, serta perspektif yang mereka miliki.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Pemberdayaan merupakan proses bersama untuk menemukan potensi, memahami persoalan, dan mencari solusi yang dapat dilakukan secara kolektif.

Dari proses interaksi tersebut, tumbuh kesadaran bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat berawal dari kepedulian sederhana dan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten bersama-sama.

Dari Majelis, Tumbuh Gerakan untuk Desa

Kisah keterlibatan ibu-ibu majelis dalam BERDIKARI 2026 menjadi gambaran bahwa kekuatan masyarakat dapat tumbuh dari ruang-ruang yang selama ini sudah hidup di tengah warga.

Dari majelis lahir kebersamaan. Dari kebersamaan tumbuh gerakan. Dan dari gerakan masyarakat, harapan untuk menciptakan desa yang lebih mandiri dan berdaya terus dibangun.

Ketika ibu-ibu ikut bergerak, kebersamaan tumbuh. Ketika kebersamaan menguat, masyarakat memiliki energi untuk berbuat lebih banyak. Dan ketika masyarakat mampu bergerak bersama, desa memiliki ruang yang semakin besar untuk berkembang.

BERDIKARI 2026 di Desa Tangkil, Cidahu, Sukabumi pada akhirnya bukan hanya tentang rangkaian kegiatan. Lebih jauh, program tersebut menjadi gambaran bahwa pemberdayaan masyarakat desa dapat dimulai dari siapa saja, termasuk ibu-ibu majelis yang hadir, terlibat, dan ikut menggerakkan perubahan dari lingkungan terdekat.

Type above and press Enter to search.