GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Etika Muamalah dan Dunia Digital: Menjaga Nilai Islam di Tengah Kemudahan Teknologi

Egi Gihan Muharam, Mahasiswa Manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan.
Suara Time, Kolom - Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Berbagai aktivitas yang dahulu membutuhkan waktu dan tenaga kini dapat diselesaikan hanya melalui genggaman tangan. Sebagai mahasiswa, saya merasakan secara langsung bagaimana teknologi mempermudah proses belajar, mencari referensi ilmiah, berkomunikasi, hingga melakukan transaksi keuangan. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), media sosial, dan berbagai platform digital menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi telah memberikan manfaat yang luar biasa.

Namun, di balik segala kemudahan tersebut, saya juga menyaksikan fenomena yang memunculkan keprihatinan. Tidak sedikit orang yang begitu tenggelam dalam dunia digital hingga tanpa sadar mengabaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Waktu yang seharusnya digunakan untuk salat, membaca Al-Qur’an, atau berzikir justru habis untuk menggulir media sosial, menonton hiburan tanpa batas, atau mengejar tren yang silih berganti. Seolah-olah teknologi telah menjadi pusat perhatian, sementara hubungan dengan Allah Swt. Semakin terpinggirkan.

Islam tidak pernah menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan. Akan tetapi, kemajuan tersebut harus tetap berada dalam bingkai etika muamalah dan nilai-nilai syariat agar tidak menjauhkan manusia dari tujuan utama kehidupannya, yaitu beribadah kepada Allah Swt.

Teknologi Mempermudah Kehidupan, tetapi Berpotensi Melalaikan

Kemudahan yang ditawarkan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga membawa tantangan besar bagi kehidupan spiritual seorang Muslim. Salah satu tantangan yang paling nyata adalah hilangnya kesadaran terhadap waktu. Tidak sedikit orang yang lebih cepat merespons notifikasi telepon genggam dibandingkan panggilan azan. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi, apabila tidak dikendalikan, dapat menggeser prioritas hidup seseorang.

Allah Swt. Telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

«”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)»

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, termasuk teknologi, tidak boleh menjadi penyebab manusia lalai mengingat Allah. Sebagai mahasiswa, saya melihat kenyataan bahwa banyak orang mampu menghabiskan berjam-jam di media sosial, tetapi merasa berat meluangkan beberapa menit untuk melaksanakan salat tepat waktu atau membaca Al-Qur’an. Kondisi ini menjadi refleksi bahwa persoalan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia mengelola dirinya.

Etika Muamalah Tidak Boleh Hilang dalam Dunia Digital

Di sisi lain, dunia digital juga menghadirkan tantangan dalam praktik muamalah. Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk transaksi harus dilandasi kejujuran, amanah, dan keadilan. Namun, ruang digital justru sering dipenuhi praktik penipuan daring, penyebaran berita bohong, manipulasi ulasan produk, hingga penyalahgunaan data pribadi. Padahal Allah Swt. Berfirman:

«”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 29)»

Ayat tersebut menegaskan bahwa etika muamalah tetap berlaku, baik dalam transaksi secara langsung maupun melalui media digital. Kejujuran tidak boleh hilang hanya karena interaksi dilakukan melalui layar.

Rasulullah saw. Juga bersabda:

«”Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)»

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kejujuran merupakan prinsip utama dalam aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, pelaku usaha digital, kreator konten, maupun pengguna media sosial tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga amanah dan tidak merugikan orang lain.

Menjadikan Teknologi sebagai Sarana Ibadah

Meskipun perkembangan teknologi sering dipandang sebagai penyebab lunturnya nilai-nilai spiritual, pada hakikatnya teknologi bersifat netral. Dampak yang ditimbulkannya sangat bergantung pada tujuan dan cara manusia menggunakannya. Bagi seorang Muslim, teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai penghalang dalam beribadah, melainkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan memperluas manfaat bagi sesama. Oleh karena itu, yang perlu dikendalikan bukanlah perkembangan teknologinya, tetapi cara manusia memanfaatkan teknologi agar tetap berada dalam koridor syariat.

Saat ini, berbagai inovasi digital telah membuka peluang yang lebih luas untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Aplikasi Al-Qur’an digital memudahkan umat Islam membaca dan menghafal Al-Qur’an kapan pun dan di mana pun. Fitur pengingat waktu salat membantu menjaga kedisiplinan dalam menunaikan ibadah, sementara kajian Islam yang tersedia secara daring memungkinkan masyarakat memperoleh ilmu dari para ulama tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Selain itu, hadirnya platform sedekah digital juga memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk berbagi rezeki secara cepat, aman, dan tepat sasaran. Bahkan, perkembangan perdagangan elektronik membuka peluang menjalankan bisnis secara halal dengan tetap mengedepankan kejujuran, amanah, dan keadilan sebagai prinsip utama dalam bermuamalah.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah Swt. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 148:

«”Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)»

Ayat tersebut mengajarkan bahwa setiap kemajuan dan kesempatan yang dimiliki manusia hendaknya diarahkan untuk memperbanyak amal saleh. Dalam konteks era digital, semangat berlomba-lomba dalam kebaikan dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat, mengajak kepada kebaikan, membantu sesama, serta membangun aktivitas ekonomi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat.

Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. Bersabda:

«”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini menegaskan bahwa nilai suatu perbuatan ditentukan oleh niat yang melandasinya. Dengan demikian, penggunaan teknologi pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk mencari rida Allah Swt. Dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sebaliknya, teknologi yang digunakan untuk kemaksiatan, penipuan, atau aktivitas yang melalaikan kewajiban akan menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.

Sebagai mahasiswa, saya meyakini bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah perkembangan teknologi. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet atau kecerdasan buatan seharusnya dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu pengetahuan, bukan untuk melakukan plagiarisme, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, ataupun menghindari proses belajar.

Kemajuan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Sebagai mahasiswa, saya memandang bahwa tantangan terbesar pada era digital bukanlah perkembangan teknologinya, melainkan kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah. Kecanggihan teknologi tidak boleh mengikis nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman dalam bermuamalah maupun beribadah.

Pada akhirnya, seorang Muslim yang bijak bukanlah mereka yang sekadar mampu mengikuti perkembangan zaman, melainkan mereka yang mampu menjadikan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas ilmu, akhlak, dan ketakwaan. Dunia digital akan terus berkembang, tetapi etika muamalah harus tetap menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah. Jangan sampai kita menjadi generasi yang canggih dalam menggunakan teknologi, tetapi lalai dalam menjalankan kewajiban kepada Allah Swt.

 

*) Penulis adalah Egi Gihan Muharam, Mahasiswa Manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan.

Type above and press Enter to search.