GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Rupiah Tembus Rp18.012 per Dolar: Siapa yang Paling Terdampak?

Sumber: AI
Suara Time, Kolom - Mata uang Garuda kini berada di titik terlemahnya sepanjang sejarah. Dari warung kelontong sampai pabrik besar, semuanya mulai merasakan imbasnya.

Kurs Hari Ini

Rp18.012

▲ +0,43% dari kemarin

Awal Mei 2026

Rp17.300

Level sebulan lalu

Perubahan

-Rp712

Dalam ~1 bulan

Kamis pagi ini, 4 Juni 2026, rupiah resmi menembus angka Rp18.012,20 per dolar Amerika Serikat — sebuah angka yang belum pernah terlihat sepanjang sejarah nilai tukar Indonesia. Bagi banyak orang, angka ini mungkin terasa seperti sekadar statistik di layar ponsel. Tapi di balik angka itu, ada dampak nyata yang sudah mulai terasa dari pasar tradisional, toko elektronik, apotek, hingga SPBU di seluruh penjuru negeri.

Pelemahan ini bukan terjadi dalam semalam. Sejak awal Mei 2026, rupiah sudah perlahan merosot dari kisaran Rp17.300-an hingga kini melampaui batas psikologis Rp18.000. Artinya, dalam waktu kurang dari sebulan, nilai rupiah sudah “tergerus” lebih dari Rp700 per dolarnya.

Kenapa Rupiah Bisa Selemah Ini?

Banyak faktor yang bikin rupiah jatuh sedemikian dalam. Yang pertama dan paling terasa adalah kondisi global yang sedang tidak bersahabat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat para investor dunia was-was. Ketika investor takut, mereka biasanya lari ke aset yang dianggap paling aman — dan itu adalah dolar AS. Permintaan dolar naik, otomatis nilai rupiah turun.

Dari sisi dalam negeri, inflasi yang mulai merayap naik di bulan Mei 2026 turut menambah tekanan. Belum lagi surplus perdagangan Indonesia yang mulai menipis, artinya pemasukan dolar dari ekspor tidak sebanding dengan kebutuhan dolar untuk impor. Kondisi ini membuat pasokan dolar di pasar lokal semakin terbatas.

“Pelemahan rupiah bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan — mulai dari harga minyak dunia yang tinggi, kuatnya dolar AS, sampai melemahnya surplus perdagangan kita.”

— Josua Pardede, Ekonom Bank Permata

Siapa yang Paling Kena Dampaknya?

Ini pertanyaan yang paling banyak dicari orang hari ini. Jawabannya: hampir semua orang, tapi dengan kadar yang berbeda-beda. Mari kita lihat satu per satu.

      Importir & Pengusaha: Biaya impor bahan baku langsung membengkak. Perusahaan yang punya utang dalam mata uang dolar makin berat menanggung cicilannya.

      Kelas Menengah: Harga barang kebutuhan naik, tapi gaji tidak ikut naik. Daya beli perlahan terkikis dari bulan ke bulan.

      Konsumen Obat & Elektronik: Obat-obatan dan gadget banyak bergantung pada komponen impor — harganya berpotensi naik signifikan dalam waktu dekat.

      Pelajar & Traveler: Yang sekolah atau liburan ke luar negeri kini harus merogoh kocek jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Harga Barang Siap-siap Naik

Salah satu dampak paling langsung yang bakal dirasakan masyarakat adalah naiknya harga barang — terutama yang bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri. Industri obat-obatan, elektronik, komponen otomotif, hingga bahan pangan tertentu sangat bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi mereka otomatis naik, dan ujungnya harga di toko yang ikut naik.

Belum lagi soal BBM dan biaya logistik. Kalau harga bahan bakar ikut terkerek, ongkos pengiriman barang dari satu kota ke kota lain juga akan naik. Ini yang para ekonom sebut sebagai imported inflation — inflasi yang datang dari luar, bukan dari dalam negeri.

“Kenaikan harga sering kali lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Dalam jangka menengah, ini bisa sangat menekan daya beli masyarakat kelas menengah secara signifikan.”

— Rizal, Ekonom INDEF

Ada yang Justru Diuntungkan?

Di tengah kabar kurang sedap ini, ada juga pihak yang justru bisa bernapas lega — yaitu para eksportir. Ketika rupiah lemah, harga produk Indonesia di mata pembeli luar negeri jadi lebih murah dan lebih kompetitif. Eksportir sawit, kopi, tekstil, furnitur, dan produk pertanian lainnya bisa menerima pendapatan dolar yang, saat dikonversi ke rupiah, nilainya jauh lebih besar dari biasanya.

Tapi ada catatan penting: keuntungan ini hanya berlaku kalau bahan baku mereka murni dari dalam negeri. Kalau masih ada komponen impor dalam proses produksinya, sebagian keuntungan itu bakal langsung terpangkas oleh biaya impor yang ikut melonjak.

Apa yang Dilakukan Pemerintah dan Bank Indonesia?

Bank Indonesia (BI) memastikan tidak tinggal diam. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan pihaknya akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta siap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menaruh harapan besar pada kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) — aturan yang mewajibkan eksportir menyimpan hasil ekspor mereka di sistem keuangan dalam negeri. Dengan lebih banyak dolar “parkir” di dalam negeri, diharapkan pasokan valas bisa lebih stabil dan rupiah bisa sedikit bernapas.

Para ekonom dari INDEF juga mendesak adanya sinergi kuat antara kebijakan fiskal dan moneter untuk memulihkan kepercayaan investor. Karena pada akhirnya, nilai tukar sangat dipengaruhi oleh kepercayaan — dan kepercayaan itu perlu dijaga bersama.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Bagi masyarakat biasa, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan agar tidak panik berlebihan. Yang terpenting adalah memahami dampaknya dan menyesuaikan strategi keuangan sejak dini. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

      Kurangi konsumsi produk impor sebisa mungkin. Semakin tinggi permintaan terhadap barang impor, semakin besar kebutuhan dolar, dan itu membuat rupiah makin tertekan.

      Pertimbangkan instrumen investasi rupiah seperti Surat Utang Negara (SUN) atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang relatif aman dari fluktuasi kurs.

      Siapkan anggaran lebih untuk kebutuhan luar negeri seperti pendidikan, perjalanan, atau kebutuhan yang berkaitan dengan dolar sejak dini.

Yang pasti, kondisi ini bukan yang pertama kali dialami Indonesia, dan negara kita sudah berkali-kali melewati masa-masa sulit seperti ini. Kuncinya adalah tetap tenang, bijak mengelola keuangan, dan mendukung kebijakan stabilisasi yang sedang diupayakan pemerintah dan Bank Indonesia.


Sumber: Media Indonesia, Suara.com, Bisnis.com, CNN Indonesia, Kompas.com  |  Kamis, 4 Juni 2026


*) Penulis adalah Bagus aryo wicaksono, Hadi waluyo, M. Elzi Masyafiq, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal.

Type above and press Enter to search.