![]() |
| Raket Padel |
Penulis: Jessica Halim
Suara Time, Jakarta - Padel, tenis, golf, boxing, hingga berkuda semakin populer di Indonesia. Lapangan padel terus bermunculan, komunitas olahraga premium tumbuh pesat, dan media sosial dipenuhi unggahan aktivitas olahraga yang kini menjadi bagian dari gaya hidup modern. Namun, muncul pertanyaan menarik: apakah masyarakat tertarik mencoba olahraga-olahraga tersebut karena benar-benar ingin berolahraga, atau karena takut tertinggal tren?
Penelitian yang dilakukan oleh Jessica Halim dan Teofilus dari Universitas Ciputra Surabaya mencoba menjawab fenomena tersebut dengan melibatkan 211 responden yang mengenal atau tertarik pada olahraga berprofil tinggi (high-profile sports). Penelitian ini mengkaji pengaruh penerimaan sosial (social acceptance), Fear of Missing Out (FOMO), dan literasi olahraga terhadap niat seseorang untuk mencoba olahraga tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik. Penerimaan sosial terhadap olahraga premium ternyata tidak secara langsung mendorong seseorang untuk mencobanya. Dengan kata lain, meskipun masyarakat menganggap olahraga seperti padel, golf, atau tenis memiliki citra positif, prestise, dan manfaat sosial, hal itu belum tentu membuat mereka ingin ikut berpartisipasi.
Namun, situasinya berubah ketika faktor FOMO hadir. Penelitian menemukan bahwa FOMO secara signifikan memperkuat hubungan antara penerimaan sosial dan niat mencoba olahraga premium. Ketika seseorang merasa khawatir tertinggal tren atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain, persepsi positif terhadap olahraga tersebut menjadi lebih mudah berubah menjadi keinginan untuk ikut mencoba.
Fenomena ini terlihat jelas di era media sosial. Melihat teman-teman bermain padel, mengikuti kelas boxing, atau membagikan pengalaman bermain golf dapat memunculkan dorongan psikologis untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Dalam kondisi tersebut, keputusan mencoba olahraga tidak lagi semata-mata didasarkan pada manfaat kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan emosional.
Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan bahwa literasi olahraga tidak memperkuat pengaruh FOMO tersebut. Meskipun pemahaman dan pengetahuan tentang olahraga berkontribusi positif terhadap niat seseorang untuk berolahraga, faktor tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah bagaimana FOMO bekerja dalam memengaruhi keputusan mencoba olahraga premium.
Temuan ini menunjukkan bahwa tren olahraga premium saat ini tidak hanya didorong oleh kesadaran kesehatan, tetapi juga oleh dinamika sosial yang berkembang di masyarakat. Popularitas suatu olahraga dapat menyebar layaknya tren, terutama ketika individu merasa ada pengalaman menarik yang mungkin mereka lewatkan jika tidak ikut terlibat.
Pada akhirnya, olahraga tetap membawa manfaat kesehatan yang positif. Namun, di balik meningkatnya popularitas olahraga premium, terdapat faktor psikologis yang tidak bisa diabaikan. Bagi sebagian orang, motivasi untuk mencoba olahraga mahal bukan sekadar ingin hidup sehat, melainkan juga keinginan untuk tetap menjadi bagian dari tren yang sedang berlangsung.
Pertanyaannya sekarang, ketika seseorang memutuskan mencoba padel, tenis, atau golf, apakah itu karena kebutuhan kesehatan, atau karena takut menjadi satu-satunya yang belum mencobanya?
