GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Wempy Dyocta Koto dan Ambisi Membangun Narasi Islam Global dari Indonesia

Wempy Dyocta Koto justru memilih jalan yang tidak sederhana melalui platform media digital Muzzlem. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Technology - Di tengah derasnya arus konten digital yang bergerak cepat dan seragam, Wempy Dyocta Koto justru memilih jalan yang tidak sederhana. Melalui platform media digital Muzzlem, ia mencoba membangun narasi Islam yang tidak hanya berbicara soal agama dalam pengertian formal, tetapi juga tentang identitas, budaya, sejarah, dan kehidupan modern.

Langkah terbarunya cukup ambisius. Muzzlem kini memproduksi konten dalam lebih dari 50 bahasa, menjangkau audiens di berbagai kawasan dunia, mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, hingga Afrika.

Ekspansi ini bukan sekadar strategi memperbesar pasar. Bagi Wempy, ada persoalan yang lebih mendasar tentang bagaimana Islam direpresentasikan di ruang digital global.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat ada kebutuhan besar akan konten Islam yang tidak hanya informatif, tetapi juga relevan secara global dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan cara pandang Wempy terhadap perubahan lanskap media saat ini. Ia melihat generasi muda tidak lagi mengakses pengetahuan melalui jalur konvensional semata. Media sosial kini menjadi ruang utama pembentukan persepsi, termasuk dalam memahami agama.

Dari situ, Muzzlem dibangun dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menggunakan pola komunikasi yang kaku dan formal, platform ini memilih storytelling sebagai pendekatan utama. Konten tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga berusaha membangun kedekatan emosional dengan audiens.

Di tangan Wempy, storytelling bukan sekadar gaya penyampaian. Ia diposisikan sebagai strategi untuk menjembatani nilai dengan pengalaman hidup sehari-hari.

Pilihan itu sekaligus menunjukkan cara Muzzlem membaca audiens digital global. Dalam ruang yang dipenuhi konten cepat dan pendek, pesan yang terlalu normatif sering kali sulit bertahan.


Karena itu, pendekatan kontekstual menjadi penting.

“Kami tidak melihat Islam sebagai satu narasi yang seragam. Justru keberagamannya adalah kekuatan,” kata Wempy.

Cara pandang tersebut kemudian diterjemahkan dalam strategi multibahasa dan lokalisasi konten. Muzzlem tidak hanya menerjemahkan bahasa, tetapi juga menyesuaikan pendekatan komunikasi berdasarkan konteks budaya masing-masing wilayah.

Menurut Wempy, pengalaman Muslim di Indonesia tentu berbeda dengan Muslim di Eropa, Timur Tengah, atau Afrika. Karena itu, narasi yang dibangun tidak bisa dipaksakan menjadi satu bentuk yang seragam.

Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana Wempy memandang Islam sebagai identitas global yang memiliki banyak wajah budaya.

Meski berbicara tentang ekspansi internasional, Wempy tetap menempatkan Indonesia sebagai basis penting. Ia melihat Indonesia memiliki pengalaman unik dalam mempraktikkan Islam yang relatif adaptif terhadap budaya lokal.

Nilai itu yang ingin dibawa ke ruang digital global

Namun, di balik pertumbuhan Muzzlem, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Platform ini masih bergantung pada distribusi melalui media sosial global seperti YouTube. Dalam sistem tersebut, algoritma memiliki pengaruh besar terhadap jangkauan sebuah konten.

“Kami menyadari bahwa platform seperti YouTube adalah kanal distribusi yang sangat kuat, tetapi juga dinamis,” ujarnya.

Kesadaran ini membuat Muzzlem mulai memikirkan pembangunan ekosistem yang lebih luas agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu platform.

Di sisi lain, Wempy juga menghadapi tantangan terkait kredibilitas konten agama di internet. Maraknya potongan video singkat yang kehilangan konteks membuat ruang digital dipenuhi informasi yang sering kali dangkal dan reaktif.

Karena itu, ia menekankan pentingnya riset dan tanggung jawab substansi.

“Bagi kami, kepercayaan audiens adalah hal yang paling penting,” kata Wempy.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena digitalisasi agama tidak jarang dikritik sebagai bentuk komersialisasi atau penyederhanaan ajaran.

Namun Wempy melihat media digital dari sudut berbeda. Menurutnya, media dapat menjadi jembatan awal untuk membuka akses pengetahuan, selama tidak diposisikan sebagai pengganti otoritas keilmuan.

“Risiko itu selalu ada, tetapi justru di situlah pentingnya pendekatan yang bertanggung jawab. Kami melihat media sebagai sarana untuk membuka akses, bukan menggantikan otoritas keilmuan,” ujarnya.

Cara berpikir seperti ini memperlihatkan posisi yang ingin diambil Wempy di tengah lanskap media digital yang semakin kompetitif. Ia tidak hanya ingin membangun platform yang besar secara audiens, tetapi juga memiliki arah nilai yang jelas.

Di tengah dunia digital yang dipenuhi perebutan perhatian, Muzzlem tampaknya mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar konten yang cepat dikonsumsi, tetapi narasi yang ingin bertahan lebih lama dalam ingatan audiens.

Dan dari Indonesia, ambisi itu kini mulai diarahkan ke panggung global.

Komentar0

Type above and press Enter to search.