![]() |
| Mahasiswa UIN Jakarta menutup jalan depan kampus. (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Jakarta — Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar aksi protes di depan gedung rektorat sebagai bentuk kekecewaan terhadap sistem pengelompokan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai tidak transparan dan kerap salah sasaran. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut pihak kampus untuk membuka secara jelas mekanisme penetapan UKT yang selama ini dianggap merugikan mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah.
Massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa dan elemen gerakan kampus membawa spanduk bertuliskan "#SelamatkanUIN dari UKT Mahal”, “Pendidikan Hak Rakyat”, Mahasiswa menilai banyak mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas justru ditempatkan pada golongan UKT tinggi, sementara proses banding dinilai berbelit dan tidak memberikan kepastian.
Dalam orasinya, Bung Ishaq selaku Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia UIN Jakarta menegaskan bahwa persoalan UKT bukan sekadar persoalan administrasi kampus, melainkan persoalan keadilan sosial dalam pendidikan.
“Hari ini pendidikan semakin jauh dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Kampus seolah menutup mata terhadap realitas mahasiswa yang harus bertahan hidup di tengah biaya pendidikan yang semakin mahal. Banyak mahasiswa dipaksa membayar UKT tinggi tanpa pertimbangan kondisi riil keluarganya. Ini bukan hanya salah sistem, tapi bentuk ketidakpekaan institusi terhadap rakyat,” tegas Bung Ishaq di hadapan massa aksi.
Ia juga menyoroti bagaimana kampus semakin menunjukkan gejala komersialisasi pendidikan melalui berbagai kebijakan yang membebani mahasiswa. Menurutnya, perguruan tinggi negeri tidak boleh dijalankan dengan logika korporasi yang menjadikan mahasiswa sebagai objek pemasukan semata.
Aksi tersebut juga diwarnai pembacaan testimoni mahasiswa yang mengaku kesulitan membayar UKT akibat pengelompokan yang tidak sesuai kondisi ekonomi keluarga. Beberapa mahasiswa bahkan mengaku terancam cuti kuliah karena tidak mampu melunasi biaya pendidikan.
Sementara itu, Ketua Front Mahasiswa Nasional UIN Jakarta, Bunga Aqiel, dalam orasinya menyampaikan bahwa kampus harus segera mengevaluasi total sistem penentuan UKT dan membuka ruang partisipasi mahasiswa dalam pengawasan kebijakan pendidikan.
“Kami melihat ada ketimpangan besar dalam proses pengelompokan UKT. Mahasiswa dari keluarga buruh, petani, bahkan pedagang kecil masih banyak yang ditempatkan di golongan tinggi. Kampus tidak bisa terus berlindung di balik sistem digital dan administrasi tanpa melihat kenyataan sosial mahasiswa. Pendidikan bukan barang dagangan,” ujar Bunga Aqiel.
Bung Aqiel juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam apabila kampus terus mengabaikan tuntutan transparansi. Ia menyerukan solidaritas antar mahasiswa untuk melawan segala bentuk kebijakan pendidikan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Mahasiswa juga meminta pihak kampus menghentikan segala bentuk kebijakan yang mengarah pada komersialisasi pendidikan. Mereka menilai perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang pembebasan intelektual dan keberpihakan kepada masyarakat, bukan justru memperbesar jarak antara pendidikan dan rakyat.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan sempat memadati kawasan depan rektorat. Massa aksi menegaskan bahwa gerakan ini akan terus berlanjut apabila pihak kampus tidak segera memberikan penjelasan terbuka terkait polemik pengelompokan UKT.
Di akhir aksi, mahasiswa melakukan mimbar bebas dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan sebagai simbol solidaritas gerakan. KBM UIN Jakarta menegaskan bahwa perjuangan menuntut transparansi UKT bukan hanya untuk kepentingan mahasiswa hari ini, tetapi juga demi memastikan pendidikan tetap dapat diakses oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi ekonomi.

Komentar0