GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Minyak, Perang, dan Rupiah: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Dompet Kita Tanpa Kita Sadari

Ilustrasi - (Foto: Pinteres).

Suara Time, Kolom - Mungkin pagi ini kamu isi bensin, bayar ojek online, beli mie instan di warung. Semua terasa biasa saja. Tapi secara diam-diam, ada perang ribuan kilometer dari sini yang ikut menentukan berapa uang yang keluar dari dompetmu.

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dalam operasi militer besar yang mereka namai Operation Epic Fury dan Operation Roaring Lion. Targetnya adalah fasilitas nuklir, sistem rudal, hingga pusat komando Iran. Beberapa hari berselang, Trump mengumumkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun Iran tidak hanya tinggal diam. Rudal-rudal balasan diluncurkan, dan pada 5 Maret 2026 Iran mengambil satu keputusan yang langsung mengguncang ekonomi dunia, yaitu menutup Selat Hormuz.

Bagi banyak orang Indonesia, nama Selat Hormuz mungkin hanya terdengar di berita. Tapi di situlah sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya, setara hampir seperlima konsumsi minyak seluruh dunia, berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA). Begitu selat itu tertutup, sekitar 320 kapal tanker terjebak, dan pasar energi global langsung panik. Harga minyak Brent yang semula di kisaran 65 dolar AS per barel meroket menembus 100 hingga 119 dolar AS hanya dalam hitungan minggu. Minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh 106 dolar AS per barel pada pertengahan Maret, naik lebih dari 40 persen dibandingkan akhir Februari. Harga gas alam cair (LNG) juga ikut melonjak hampir 60 persen.

Tapi bagaimana semua itu bisa sampai ke kantong rakyat Indonesia?

Jawabannya ada pada tiga rantai yang bekerja bersamaan. Pertama, lonjakan harga minyak dunia langsung membengkakkan beban subsidi BBM pemerintah. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak di angka 70 dolar AS per barel. Namun harga aktualnya malah melonjak ke 100 dolar lebih. Setiap kenaikan 1 dolar per barel saja berpotensi menambah beban subsidi antara Rp7 hingga Rp10,3 triliun. Angka yang tidak kecil untuk APBN yang memang sudah ketat.

Kedua, ketidakpastian geopolitik memicu pelarian modal asing dari negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. Akibatnya pun kondisi rupiah ikut tertekan. Per 7 April 2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.095 per dolar AS, rekor penutupan terendah sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Angka ini jauh melampaui asumsi pemerintah di kisaran Rp16.500.

Ketiga, rupiah yang melemah otomatis menaikkan biaya impor karena Indonesia membeli minyak dengan dolar. Inilah yang disebut dengan imported inflation. Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan memperingatkan bahwa efek berantai perang ini berpotensi memukul bahan baku pangan dan industri manufaktur. Faktanya sudah terasa: Ketua GINSI mencatat biaya impor pelaku usaha melonjak hingga 20 persen begitu rupiah jebol di level Rp17.000. Hasilnya, inflasi tahunan Indonesia melompat ke 4,76 persen pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2023.

Di pasar tradisional, dampaknya konkret. Data Kementerian Perdagangan per 6 April 2026 menunjukkan minyak goreng sawit curah naik 4,99 persen dalam sebulan, diikuti dengan harga bawang merah, daging sapi, gula, beras, dan terigu. Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex juga sudah naik Rp200 hingga Rp1.020 per liter sejak Maret. Pemerintah masih menahan harga Pertalite dan Solar subsidi, tapi para pengamat mengingatkan bahwa pertahanan ini tidak akan bertahan selamanya. Jika subsidi dilepas, Pertalite bisa melompat 15 hingga 20 persen ke kisaran Rp11.500 sampai Rp12.000 per liter.

Yang paling terdampak bukan kelompok paling bawah yang terlindungi bansos, melainkan kelas menengah yang tidak dapat subsidi tapi juga tidak kebal terhadap kenaikan harga. Mandiri Institute mencatat kelas menengah Indonesia menyusut 1,1 juta orang sepanjang 2025 menjadi hanya 46,7 juta jiwa. Upah riil tumbuh hanya 1,94 persen, jauh di bawah inflasi kebutuhan dasar. Tabungan kelompok berpenghasilan rendah pun terkuras, turun dari rata-rata Rp4,2 juta menjadi Rp1,7 juta. 

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pertama, audit pengeluaran sekarang juga. Pisahkan kebutuhan dari keinginan. Hentikan langganan yang jarang dipakai dan dapat alihkan ke dana darurat. Lunasi utang konsumtif berbunga tinggi sebelum kondisi makin mengetat. Kedua, jangan biarkan uang diam di tabungan biasa karena nilainya akan tergerus inflasi. Instrumen seperti emas dan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seperti ORI terbukti lebih tahan inflasi, dengan modal mulai Rp1 juta dan dijamin penuh oleh undang-undang. Ketiga, kurangi konsumsi BBM melalui efisiensi kendaraan dan perawatan rutin. Keempat, perkuat dana darurat minimal untuk enam bulan ke depan karena ketidakpastian geopolitik bisa jadi muncul kapan saja.

Di level yang lebih besar, krisis ini sebenarnya sudah lama bisa diprediksi. Stok BBM nasional hanya tersedia sekitar 20 hari, dan setiap guncangan harga minyak selalu berujung pada tekanan fiskal yang sama. Sementara itu, Indonesia sebenarnya menyimpan potensi energi terbarukan mencapai 3.687 gigawatt dari matahari, angin, air, dan panas bumi. Analisis INDEF dan Systemiq menunjukkan pengembangan energi terbarukan secara serius bisa memobilisasi investasi hingga 18 miliar dolar dan menambah 1 persen kontribusi terhadap PDB.

Konflik Timur Tengah 2026 mengajarkan satu hal yang mahal, harga minyak di Selat Hormuz dan harga beras di pasar tradisional kota kamu bukanlah dua dunia yang berbeda. Mereka adalah dua ujung dari rantai yang sama. Memahami koneksi itu bukan urusan ekonom saja, melainkan kebutuhan setiap warga negara yang ingin tahu mengapa hidupnya bisa berubah hanya karena keputusan yang dibuat oleh suatu negara yang walaupun jaraknya mencapai ribuan kilometer dari rumahnya.


*) Penulis adalah Ghulfam Alfarichi, Mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal.

Komentar0

Type above and press Enter to search.