GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dolar Mulai Goyah? Drama Panas Perebutan Tahta Keuangan Dunia di 2026

Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).

Suara Time, Kolom -
Tahun 2026 jadi momen yang cukup panas untuk keuangan global. Di tengah ketegangan geopolitik, perkembangan teknologi finansial, dan arah kebijakan moneter yang berubah-ubah, mulai terlihat ada pergeseran kekuatan. Dolar Amerika Serikat yang selama ini dominan, sekarang mulai mendapat tekanan dari berbagai sisi.

Ini bukan sekadar isu. Beberapa negara besar sudah mulai mengurangi ketergantungan pada dolar dalam transaksi internasional. Tren dedolarisasi makin terasa, terutama di negara berkembang dan kelompok seperti BRICS yang terlihat makin serius membangun alternatif sistem keuangan global.

Salah satu pemicunya datang dari kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini memang membantu menekan inflasi di dalam negeri mereka, tapi efeknya ke negara lain cukup berat. Nilai mata uang melemah, arus modal keluar, dan utang luar negeri jadi makin membengkak.

Karena itu, banyak negara mulai mencari cara lain. Kerja sama bilateral diperkuat, termasuk dengan memakai mata uang lokal dalam perdagangan. India dan Uni Emirat Arab, misalnya, sudah mulai menggunakan mata uang masing-masing untuk transaksi minyak. Sementara China terus mendorong penggunaan yuan di perdagangan global, terutama lewat proyek Belt and Road Initiative.

Perubahan yang paling terasa di 2026 justru datang dari percepatan penggunaan mata uang digital bank sentral atau CBDC. Sistem ini dianggap lebih cepat, lebih murah, dan lebih transparan, sehingga mulai dilihat sebagai alternatif nyata dari sistem pembayaran internasional yang selama ini didominasi dolar.

China lagi-lagi jadi pemain utama. Digital yuan tidak hanya dipakai di dalam negeri, tapi mulai masuk ke transaksi lintas negara. Uni Eropa juga bergerak dengan rencana euro digital untuk meningkatkan efisiensi sistem keuangan mereka. Bahkan beberapa negara kecil mulai ikut mengadopsi teknologi ini untuk tetap bersaing.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran soal fragmentasi sistem keuangan global. Kalau tiap negara berjalan dengan sistemnya sendiri tanpa koordinasi, risiko ketidakstabilan bisa meningkat. Perbedaan standar dan regulasi bisa membuat sistem keuangan jadi terpecah-pecah dan sulit terhubung.

Masalah keamanan siber juga tidak bisa diabaikan. Semakin digital sistem keuangan, semakin besar potensi ancaman. Peretasan, kebocoran data, sampai manipulasi transaksi jadi risiko nyata yang harus dihadapi.

Indonesia sendiri juga mulai beradaptasi. Bank Indonesia mendorong transformasi digital, termasuk lewat pengembangan rupiah digital. Tujuannya bukan hanya untuk mempermudah transaksi di dalam negeri, tapi juga untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan sistem keuangan global.

Di tingkat pasar, pelaku dan investor juga mulai mengubah strategi. Diversifikasi jadi kunci. Tidak hanya saham dan obligasi, tapi juga aset digital dan mata uang alternatif mulai dilirik. Perusahaan multinasional pun ikut menyesuaikan diri dengan menerima berbagai jenis pembayaran lintas mata uang, termasuk yang berbasis digital.

Meski begitu, bukan berarti dolar akan langsung runtuh. Kepercayaan terhadap ekonomi Amerika Serikat masih kuat. Infrastruktur keuangan yang matang, likuiditas tinggi, dan stabilitas yang relatif terjaga tetap jadi keunggulan utama.

Namun, peta kekuatan memang mulai berubah. Dunia tidak lagi bergantung pada satu mata uang saja. Sistem keuangan global bergerak ke arah yang lebih beragam dan tidak terpusat. Ini membuka peluang, tapi juga membawa tantangan baru bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Pada akhirnya, yang terjadi di 2026 menunjukkan bahwa keuangan internasional bukan cuma soal angka. Ada strategi, teknologi, dan kepentingan geopolitik di dalamnya. Perebutan pengaruh ini berjalan tanpa terlihat mencolok, tapi dampaknya nyata.

Di situasi seperti ini, yang bisa cepat beradaptasi punya peluang lebih besar untuk bertahan, bahkan memimpin. Sementara yang lain, hanya bisa mengikuti arah perubahan yang terus bergerak.


*) Penulis adalah Syifa Tri Nur Sakinah, Dhea Silvia, dan Hidayatun Al Hikmah, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal.

Komentar0

Type above and press Enter to search.