![]() |
| DEMA FDIKOM UIN Jakarta bersama Lintasan Kalam, Matraman, dan IKAMI Sulawesi Selatan nobar film dokumenter Pesta Babi. (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Jakarta — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama Lintasan Kalam, Matraman, dan IKAMI Sulawesi Selatan menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi sebagai ruang kolektif untuk membangun kesadaran kritis terhadap persoalan pembangunan, relasi kuasa atas sumber daya alam, serta tantangan yang dihadapi masyarakat adat di Indonesia.
Kegiatan ini dilaksanakan bukan semata sebagai agenda pemutaran film, melainkan sebagai ruang bertemu antara mahasiswa, komunitas intelektual, dan kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu sosial-ekologis. Film Pesta Babi menjadi titik masuk untuk membaca kembali bagaimana pembangunan dipahami, dijalankan, dan dirasakan oleh kelompok-kelompok yang berada di wilayah terdampak.
Di tengah narasi besar tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, dan percepatan pembangunan, film tersebut menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah kemajuan selalu berjalan searah dengan keadilan?
Melalui dokumentasi yang ditampilkan, peserta diajak melihat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang angka produksi dan perluasan infrastruktur, tetapi juga tentang perubahan ruang hidup, relasi manusia dengan alam, serta keberlangsungan komunitas yang telah lama hidup dari tanah dan hutan.
Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film menyoroti bagaimana masyarakat adat sering kali ditempatkan dalam posisi yang tidak seimbang ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi berskala besar. Dalam banyak kasus, tanah dipahami sebagai aset produksi, sementara bagi masyarakat lokal tanah merupakan ruang sosial yang menyimpan sejarah, identitas, serta keberlanjutan kehidupan.
Presiden DEMA FDIKOM UIN Jakarta, Muhammad Zidan Ramdani, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kampus sebagai ruang yang tidak terputus dari realitas sosial.
“Kami meyakini bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ada banyak persoalan bangsa yang perlu dibaca bersama secara lebih jujur dan lebih mendalam. Nobar Pesta Babi menjadi salah satu cara untuk menghidupkan tradisi berpikir kritis sekaligus membangun sensitivitas sosial di kalangan mahasiswa.”
Menurutnya, mahasiswa perlu terus mempertanyakan bagaimana pembangunan dijalankan dan siapa yang paling terdampak dari setiap kebijakan.
“Kita tidak sedang menolak pembangunan, tetapi mempertanyakan apakah pembangunan telah berjalan dengan prinsip keadilan. Jangan sampai kemajuan hanya menjadi statistik sementara masyarakat kehilangan ruang hidup dan lingkungan mengalami kerusakan yang sulit dipulihkan.”
Perwakilan penyelenggara juga menekankan bahwa isu lingkungan dan masyarakat adat bukan persoalan yang berdiri sendiri. Persoalan tersebut berkaitan erat dengan model pembangunan, distribusi manfaat ekonomi, serta bagaimana negara dan masyarakat membangun relasi dengan alam.
Dalam forum tersebut, peserta membahas pentingnya menghadirkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekologis dan penghormatan terhadap komunitas yang telah menjaga wilayahnya selama lintas generasi.
Kolaborasi antara DEMA FDIKOM, Lintasan Ilmu Kalam, Matraman, dan IKAMI Sulsel diharapkan menjadi awal dari lebih banyak ruang belajar bersama yang melampaui sekat organisasi dan disiplin ilmu. Kampus dan komunitas dipandang memiliki peran penting untuk menjaga ruang dialog publik agar isu-isu kemanusiaan dan lingkungan tidak tenggelam di tengah arus politik dan ekonomi.
Kegiatan nobar Pesta Babi pada akhirnya menjadi pengingat bahwa membicarakan pembangunan tidak cukup hanya dari sisi capaian dan target, tetapi juga perlu mendengar suara mereka yang hidup paling dekat dengan tanah, hutan, dan ruang yang sedang berubah.
