
Robby Basyir Ketua Umum PW Hima Persis Jawa Timur. (Foto: Dok/Ist).
Ketua Umum PW Hima Persis Jawa Timur, Robby Basyir, menegaskan bahwa kebijakan publik haruslah berbasis pada asas keadilan yang merata dan transparansi yang akuntabel. Menurutnya, meskipun penguatan tata kelola gizi di sekolah adalah langkah yang baik, momentum pelaksanaannya dirasa kurang tepat dan berisiko memicu kecemburuan struktural.
Dilema Keadilan bagi
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Dalam narasi yang
disampaikan secara mendalam, Robby Basyir menyoroti nasib ribuan guru honorer
yang hingga kini masih berjuang demi kepastian status.
"Kita tidak sedang mempertanyakan kompetensi para ahli gizi atau akuntan, karena mereka pun bagian penting dari ekosistem sekolah. Namun, kita sedang mempertanyakan di mana letak 'keadilan pengabdian'. Guru honorer telah bertahun-tahun berdiri di garis depan peradaban dengan upah yang seringkali tidak layak, namun mereka tetap bersabar menunggu giliran pengangkatan. Membuka jalur khusus bagi tenaga administratif di tengah antrean panjang guru honorer adalah paradoks yang sulit diterima secara nurani," papar Robby.
Analisis Dampak:
Ketimpangan Kuota dan Anggaran
Robby Basyir menguraikan
tiga poin fundamental yang menjadi dasar kritik PW Hima Persis Jawa Timur
terhadap kebijakan ini:
- Risiko Kanibalisasi Formasi: Terdapat
kekhawatiran besar bahwa alokasi anggaran dan kuota PPPK akan terserap
secara signifikan untuk posisi administratif dan teknis gizi, sehingga
mempersempit peluang bagi tenaga pendidik (guru) yang jumlahnya masih
sangat kurang di daerah-pelosok.
- Standar Ganda Seleksi: Pemerintah diminta
untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai kualifikasi dan masa kerja
yang dipersyaratkan bagi pegawai SPPG. Jangan sampai ada kesan bahwa jalur
pengangkatan ini lebih "mudah" dibandingkan seleksi ketat yang
harus dilalui oleh para guru honorer.
- Keseimbangan Ekosistem Sekolah: Sekolah bukan sekadar institusi administratif. Inti dari sekolah adalah proses belajar-mengajar. Menomorsatukan tenaga penunjang di atas tenaga inti (pendidik) dikhawatirkan akan mengganggu moralitas kerja di lingkungan pendidikan.
Panggilan untuk
Dialog Terbuka
PW Hima Persis Jawa
Timur mendorong Kementerian terkait untuk melakukan audit sosial sebelum
mengimplementasikan kebijakan ini secara penuh. Robby menyarankan adanya
sinkronisasi data yang melibatkan organisasi profesi guru agar tidak terjadi
tumpang tindih kepentingan.
"Pemerintah harus hadir sebagai orang tua yang adil bagi seluruh elemen pendidikan. Kami mendorong adanya ruang dialog terbuka. Jangan sampai kebijakan yang lahir dari meja birokrasi justru memadamkan api semangat para guru di ruang-ruang kelas," tambah Robby dengan nada tegas.
Komitmen Pengawalan
Kebijakan
Sebagai organisasi
mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai intelektual dan keumatan, PW Hima Persis
Jawa Timur berkomitmen untuk terus mengawal isu ini hingga ke tingkat daerah.
Robby menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan konsolidasi dengan berbagai
elemen mahasiswa dan pendidik untuk memastikan suara-suara dari akar rumput
didengar oleh pengambil kebijakan.
"Kami tidak ingin melihat pendidikan kita maju secara administratif namun mundur secara moralitas keadilan. Harapan kami jelas: tuntaskan dulu janji kepada para guru honorer, baru kemudian kita bicara soal penataan tenaga pendukung lainnya," tutup Robby Basyir dalam rilisnya.
Komentar0