![]() |
Mahasiswa (tengah) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam Kelompok KKN-T TIM 42. (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Sragen - Sebagai bagian dari komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam Kelompok KKN-T TIM 42 menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Sosialisasi Arduino Nano untuk Anak Madrasah Ibtidaiyah”. Kegiatan ini berlangsung di Desa Sukorejo, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, dan merupakan salah satu program unggulan dari tema Inovasi Desa Berbasis Universitas (IDBU).
Kegiatan sosialisasi dipimpin oleh Muhammad Yudho, mahasiswa dari Sekolah Vokasi UNDIP jurusan Teknik Listrik Industri. Ia menjadi narasumber utama dalam penyampaian materi sekaligus pemandu praktik langsung kepada siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Dr. Ir. Cahya Setya Utama, S.Pt., M.Si., IPM., sosialisasi ini mengusung pendekatan interaktif untuk mempermudah siswa memahami teknologi dasar.
Arduino Nano diperkenalkan sebagai mikrokontroler yang dapat digunakan untuk berbagai proyek sederhana hingga kompleks. Dalam kegiatan ini, fokus utama adalah membuat sistem pendeteksi api menggunakan flame sensor, Arduino Nano, dan buzzer sebagai aktuator. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya mengenal alat, tetapi juga memahami konsep kerja dan aplikasinya dalam kehidupan nyata, seperti sistem alarm kebakaran.
Kegiatan diawali dengan pengenalan komponen yang digunakan. Muhammad Yudho menjelaskan fungsi dari masing-masing alat secara sederhana dan menarik. Flame sensor dikenalkan sebagai alat untuk mendeteksi keberadaan api, sedangkan buzzer sebagai alarm peringatan. Arduino Nano sendiri dijelaskan sebagai otak dari rangkaian yang menghubungkan sensor dengan buzzer.
Menariknya, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung diajak untuk merakit rangkaian elektronik secara mandiri. Dengan dipandu oleh tim mahasiswa KKN, para siswa mencoba menyambungkan kabel, menghubungkan sensor ke Arduino, serta mengamati bagaimana alat merespon ketika diberi sumber api. Pendekatan ini terbukti meningkatkan antusiasme siswa karena langsung melihat hasil kerja mereka.
Agar suasana belajar semakin menyenangkan, kegiatan ini dilengkapi dengan sesi tanya jawab dan kuis interaktif. Para siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar maupun berhasil merangkai alat dengan tepat mendapatkan hadiah berupa starter kit Arduino. Hadiah ini tidak hanya menjadi motivasi, tetapi juga membuka peluang mereka untuk belajar lebih lanjut di rumah bersama keluarga atau guru.
Respon yang diberikan siswa sangat positif. Mereka terlihat antusias dan penasaran dengan teknologi yang sebelumnya belum pernah mereka kenal. Bahkan beberapa siswa menyatakan keinginannya untuk menjadi ilmuwan atau teknisi saat dewasa nanti. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis praktik memiliki dampak jangka panjang dalam membentuk minat dan cita-cita anak-anak.
Para guru di madrasah juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. Menurut salah satu guru kelas, kegiatan ini memberikan warna baru dalam proses pembelajaran dan membuka wawasan siswa mengenai teknologi modern. Mereka berharap program seperti ini bisa diadakan secara berkala agar siswa dapat terus mengikuti perkembangan zaman.
Bagi tim mahasiswa KKN, kegiatan ini bukan sekadar pelaksanaan program, tetapi juga sarana belajar. Mereka belajar bagaimana menyampaikan ilmu secara sederhana, membangun komunikasi dengan anak-anak, dan memahami kondisi pendidikan di daerah. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa teknologi bukan hanya milik kota, tetapi bisa diakses dan dipahami oleh siapa pun, termasuk anak-anak di desa.
Dari sisi penyelenggara, kegiatan ini menjadi gambaran konkret bagaimana perguruan tinggi dapat hadir secara nyata di tengah masyarakat, terutama di lingkungan pendidikan dasar. Dengan metode yang aplikatif dan menyenangkan, pengetahuan yang dianggap rumit dapat diterima dengan mudah oleh siswa.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, TIM 42 UNDIP berharap dapat menjadi perantara antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan, mereka turut andil dalam membentuk generasi muda yang lebih tanggap terhadap teknologi dan permasalahan di sekitar mereka.
Di akhir kegiatan, Muhammad Yudho menyampaikan bahwa pengenalan teknologi sejak dini adalah investasi jangka panjang. “Hari ini mereka belajar tentang flame sensor, tapi di masa depan mereka bisa menciptakan alat yang lebih kompleks. Mimpi mereka tidak boleh dibatasi hanya karena tinggal di desa,” ujarnya. Sosialisasi ini bukanlah akhir, tetapi awal dari kesadaran teknologi di kalangan anak-anak MI di Sukorejo.
Komentar0