GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Menginjak Garis Finish, Mengingat Ayah: Perjuangan Atlet Lari yang Berlari dengan Hati

Hana Nisa, atlet lari jarak jauh yang baru saja finish di urutan ketiga dalam event lari kejuaraan Half Marathon. (Foto: Dok/Ist).

Suara Time, Malang — Bagi kebanyakan orang, garis finish adalah akhir dari perlombaan. Tapi bagi seorang atlet muda asal Malang, garis finish adalah awal dari sebuah janji lama: janji untuk terus berlari sejauh mungkin, demi sosok yang tak lagi bisa memberi semangat— sang ayah.

“Karena ayah saya, saya bisa sejauh ini,” ucap Hana Nisa, atlet lari jarak jauh yang baru saja finish di urutan ketiga dalam event lari kejuaraan Half Marathon. Wajahnya berkeringat, napasnya masih berat, tapi matanya berbinar penuh makna. Baginya, setiap langkah di lintasan adalah bentuk penghormatan untuk ayah yang selalu mendukungnya, bahkan sejak ia pertama kali mengenakan sepatu lari di bangku SMP.

Hana bercerita, sang ayah selalu hadir disetiap ia bertanding, membawa semangat yang tak pernah habis. “Beliau bukan hanya ayah, tapi pelatih mental saya. Waktu saya ingin menyerah, beliau selalu bilang: 'lari bukan tentang cepat, tapi tentang jangan berhenti”.

Setelah dua tahun kepergian ayahnya Hana merasa kehilangan sosok sang ayah yang selalu memberikan dorongan dan semangat. Tak pernah ada tekanan. Hanya satu pesan ayah yang terus diulang: “Lari yang jujur. Jangan curangi proses.” 

Hana Nisa dengan Medali ditangannya. (Foto: Dok/Ist).

Itulah titik baliknya

Berlatih dengan Kenangan

Kini Hana kembali ke lintasan dengan semangat yang berbeda. Ia bukan hanya bertanding untuk menang, tapi untuk kenangan. Setiap Minggu pagi ia berlatih di Stadion Gajayana, tempat yang dulu menjadi saksi pelukan dan semangat sang ayah untuk mendukung berlari.

“Saya tahu beliau tidak ada di sini secara fisik, tapi saya yakin, setiap langkah saya, ada doanya yang selalu ikut,” ujar Hana, yang ditemui saat berlatih.

Hana Menjadi Sosok yang Menginspirasi

Prestasi Hana terus menanjak. Tahun ini ia lolos ke seleksi Kejurnas dan berpeluang memperkuat tim kota Malang dalam Kejurnas 2025 September mendatang. Banyak atlet muda yang menjadikan Hana sebagai panutan, bukan hanya karena kecepatannya, tapi karena keteguhan dan hatinya.

Pelatihnya, Pak Widi Santosa, mengatakan, “Hana itu punya satu kekuatan nilai berlari yang luar biasa yaitu ketulusan. Dia lari bukan untuk sorotan, tapi untuk sesuatu yang lebih dalam. Itu yang bikin dia istimewa.”

Kini, setiap kali Hana berdiri di garis start dan ketika kakinya mulai melaju, bukan hanya tubuhnya yang bergerak, tapi juga harapan, cinta, dan warisan semangat dari seorang ayah yang pernah percaya: anaknya bisa sejauh ini. Namun bagi Hana pencapaian itu bukan miliknya sendiri. “Setiap kemenangan adalah hadiah untuk ayah saya, meski ayah saya sudah tiada selama saya masih bisa berlari, saya akan terus membawa ayah bersama saya” ucapnya.

Kini, Hana percaya bahwa meski seseorang telah tiada, cinta dan semangatnya bisa tetap hidup dalam napas, dalam langkah, dalam tujuan. Karena bagi Hana, ia tak pernah berlari sendirian.

Komentar0

Type above and press Enter to search.