| Dra. Yulies Herni, M.Pd. (Foto: Dok/Ist). |
Pertanyaan tersebut relevan karena basis pengguna digital Indonesia terus meluas. Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, naik dari 69,21 persen pada 2023. Sektor informasi dan komunikasi juga tumbuh 7,57 persen pada 2024. Angka ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan aktivitas digital semakin melekat pada perekonomian nasional. Namun, akses belum otomatis berubah menjadi produktivitas, inovasi, atau kepemilikan nilai ekonomi.
Di sinilah posisi generasi muda menjadi strategis. Mereka relatif dekat dengan teknologi, cepat beradaptasi terhadap platform baru, dan memiliki ruang besar untuk bereksperimen. Tetapi kemampuan mengoperasikan aplikasi tidak sama dengan kemampuan membangun bisnis digital. Menjadi pengguna media sosial bukan berarti memahami algoritma pemasaran; mampu memakai kecerdasan buatan bukan berarti mampu menciptakan solusi yang dibutuhkan pasar.
Karena itu, agenda ekonomi digital harus bergerak dari literasi konsumtif menuju literasi produktif. Generasi muda perlu diarahkan untuk menghasilkan konten berkualitas, mengembangkan perangkat lunak, membangun merek lokal, mengolah data, menciptakan layanan kreatif, memperkuat UMKM, serta menemukan model bisnis yang memecahkan masalah nyata.
Transformasi ini memerlukan perubahan cara pandang. Ukuran keberhasilan generasi muda di era digital tidak semestinya hanya berapa lama mereka terhubung ke internet, berapa banyak pengikut yang dimiliki, atau seberapa sering mereka menggunakan platform. Ukuran yang lebih penting adalah nilai apa yang mereka ciptakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan apakah aktivitas digital tersebut meningkatkan produktivitas serta kemandirian ekonomi.
Dari Konsumen Digital Menjadi Pencipta Nilai
Menjadi konsumen dalam ekonomi digital bukan sesuatu yang salah. Konsumsi digital bahkan dapat meningkatkan efisiensi dan memperluas pilihan masyarakat. Masalah muncul ketika ekosistem digital hanya membentuk perilaku membeli, menonton, menggulir layar, dan mengikuti tren tanpa mendorong kemampuan menciptakan sesuatu.Generasi muda perlu didorong memahami rantai nilai digital. Di balik satu transaksi daring terdapat desain produk, pengumpulan dan pengolahan data, pemasaran, sistem pembayaran, logistik, layanan pelanggan, keamanan siber, hingga evaluasi kepuasan pengguna. Setiap titik tersebut membutuhkan keterampilan dan membuka peluang pekerjaan maupun kewirausahaan.
Perkembangan QRIS memberikan gambaran konkret. Bank Indonesia melaporkan bahwa hingga akhir 2025 pengguna QRIS mencapai 59,53 juta dan merchant mencapai 42,75 juta, dengan mayoritas merchant berasal dari UMKM. Ini bukan sekadar perubahan cara membayar. Bagi pelaku usaha muda, pembayaran digital dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pencatatan transaksi, memahami perilaku pelanggan, mengembangkan promosi berbasis data, dan memperluas pasar.
Dengan demikian, teknologi harus diposisikan sebagai alat produksi, bukan sekadar alat konsumsi. Seorang mahasiswa dapat menggunakan platform digital untuk menjual desain, jasa analisis data, kelas daring, produk kerajinan, aplikasi sederhana, atau layanan konsultasi. Seorang pemuda di daerah dapat memasarkan produk pertanian dan perikanan secara langsung ke konsumen. Kreator konten dapat mengubah kreativitas menjadi bisnis yang memiliki standar profesional dan sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Namun, penciptaan nilai tidak berarti semua orang harus menjadi pendiri perusahaan rintisan. Menjadi pencipta nilai juga berarti menjadi pekerja yang memiliki keterampilan digital tinggi, inovator di dalam organisasi, pengembang proses bisnis yang lebih efisien, atau pelaku UMKM yang mampu menggunakan data untuk mengambil keputusan. Intinya adalah menciptakan manfaat yang dapat diukur, bukan sekadar hadir di ruang digital.
Perubahan orientasi tersebut penting agar bonus demografi tidak berhenti sebagai jumlah pengguna internet yang besar. Bonus demografi akan menjadi kekuatan ekonomi apabila generasi muda memiliki kompetensi, kesehatan produktif, etos inovasi, dan kesempatan yang cukup untuk mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi dan sosial.
Peluang Besar, tetapi Tidak Otomatis Menjadi Kesejahteraan
Pertumbuhan transaksi digital menunjukkan adanya peluang pasar yang luas. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi pada Januari 2026, tumbuh 39,65 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, transaksi QRIS tumbuh 131,47 persen secara tahunan. Angka tersebut menggambarkan betapa cepat masyarakat menerima pembayaran digital.Akan tetapi, besarnya aktivitas digital tidak boleh langsung disamakan dengan meningkatnya kesejahteraan. Platform digital dapat memperluas pasar, tetapi juga dapat memperkuat persaingan harga, meningkatkan ketergantungan pada platform, dan membuat pelaku usaha berlomba mengejar perhatian. Anak muda yang tidak memiliki kemampuan membangun diferensiasi dapat terjebak dalam ekonomi berbasis tren: mengikuti apa yang sedang viral tanpa membangun aset usaha yang tahan lama.
Tantangan berikutnya adalah kualitas pekerjaan. Ekonomi digital menciptakan pekerjaan baru, tetapi sebagian pekerjaan bersifat fleksibel, sementara, atau sangat bergantung pada platform. Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan yang membuat mereka tidak mudah tergantikan. Keterampilan teknis harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, pemecahan masalah, dan etika.
Kecerdasan buatan menambah urgensi persoalan ini. AI dapat membantu membuat konten, menganalisis data, menulis kode, menerjemahkan bahasa, dan mengotomatisasi proses. Namun, kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab harus disertai kemampuan memverifikasi informasi, memahami hak cipta, menjaga privasi, dan mempertimbangkan dampak keputusan. Generasi muda jangan hanya menjadi operator AI; mereka harus mampu merumuskan masalah yang tepat untuk diselesaikan dengan AI.
Pendidikan tinggi dan pendidikan vokasi memiliki peran penting. Kurikulum perlu memberi ruang lebih besar untuk proyek nyata, studi kasus bisnis, pengembangan produk, analisis data, kewirausahaan digital, dan kolaborasi lintas disiplin. Penilaian tidak cukup berbasis kemampuan mengingat teori, tetapi juga harus mengukur kemampuan menghasilkan solusi yang dapat diuji.
Dengan pendekatan tersebut, ekonomi digital dapat menjadi jalan menuju mobilitas sosial. Teknologi memberi kesempatan kepada anak muda dari berbagai daerah untuk menjangkau pasar yang sebelumnya sulit mereka akses. Namun kesempatan tersebut hanya menjadi kesejahteraan apabila dibarengi kompetensi dan ekosistem yang memungkinkan mereka mempertahankan nilai yang telah diciptakan.
Kesenjangan Digital: Bukan Hanya Soal Akses Internet
Ketika berbicara tentang kesenjangan digital, perhatian sering berhenti pada pertanyaan apakah seseorang memiliki akses internet atau tidak. Padahal, kesenjangan yang lebih menentukan adalah kesenjangan kualitas penggunaan. Dua orang dapat sama-sama memiliki telepon pintar, tetapi hasil ekonominya sangat berbeda: satu menggunakannya untuk hiburan dan belanja, sementara yang lain menggunakannya untuk belajar, bekerja, membangun jaringan, dan menjual produk.BPS menunjukkan bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka tersebut merupakan kemajuan besar, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa masih ada bagian penduduk yang belum terhubung. Bahkan bagi yang sudah terhubung, kualitas perangkat, kecepatan internet, kemampuan memahami informasi, dan kapasitas ekonomi untuk berinvestasi pada teknologi masih berbeda-beda.
Kesenjangan juga terlihat antara pusat pertumbuhan ekonomi dan daerah. Anak muda di kota besar mungkin lebih mudah menemukan komunitas startup, mentor, coworking space, pelatihan, dan akses pembiayaan. Sebaliknya, anak muda di daerah dapat memiliki ide yang kuat tetapi kesulitan memperoleh pendampingan dan pasar.
Karena itu, kebijakan ekonomi digital harus bersifat inklusif. Pemerintah, kampus, dunia usaha, dan komunitas perlu membangun program yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga cara menciptakan produk dan mengelola usaha. Pelatihan harus berbasis kebutuhan lokal: digitalisasi pemasaran bagi UMKM, pencatatan keuangan bagi wirausaha, keamanan siber bagi sekolah, pengolahan data bagi pemerintah daerah, atau pengembangan konten bagi industri kreatif.
Kampus juga dapat menjadi simpul ekosistem. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam proyek digitalisasi UMKM, pendampingan koperasi, pengembangan katalog produk desa, analisis media sosial, dan pembuatan sistem informasi sederhana. Dengan begitu, pembelajaran tidak terpisah dari persoalan masyarakat.
Tujuan akhirnya bukan membuat semua orang menjadi ahli teknologi. Tujuannya adalah memastikan bahwa teknologi memperbesar kapasitas manusia. Anak muda di desa maupun kota harus memiliki peluang yang relatif setara untuk belajar, berkarya, mengakses pasar, dan memperoleh manfaat ekonomi dari transformasi digital.
Keterampilan yang Harus Dibangun Generasi Muda
Jika generasi muda ingin berpindah dari konsumen menjadi pencipta nilai, maka orientasi pengembangan kompetensi perlu diperjelas. Keterampilan digital bukan satu kemampuan tunggal. Ia merupakan kombinasi antara kemampuan teknis, bisnis, sosial, dan etika.- Pertama, literasi data. Anak muda perlu mampu membaca data, membedakan fakta dari opini, memahami indikator sederhana, dan menggunakan data untuk mengambil keputusan.
- Kedua, literasi AI. AI perlu dipahami sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai pengganti penalaran manusia. Kemampuan menyusun pertanyaan, mengevaluasi keluaran, dan menjaga etika menjadi semakin penting.
- Ketiga, kemampuan bisnis. Produk digital tetap harus menjawab kebutuhan pelanggan. Karena itu, generasi muda perlu memahami segmentasi pasar, proposisi nilai, biaya, harga, arus kas, pemasaran, dan layanan pelanggan.
- Keempat, kreativitas dan desain. Persaingan digital membuat produk yang hanya murah semakin mudah ditiru. Identitas merek, pengalaman pengguna, cerita produk, dan inovasi menjadi sumber keunggulan.
- Kelima, keamanan siber dan perlindungan data. Semakin besar aktivitas digital, semakin besar pula risiko penipuan, pencurian akun, kebocoran data, dan manipulasi informasi.
- Keenam, komunikasi dan kolaborasi. Ide yang baik tidak akan menghasilkan dampak apabila tidak dapat dijelaskan, dijual, dan dikembangkan bersama orang lain.
- Ketujuh, ketahanan belajar. Teknologi berubah cepat. Keterampilan yang relevan hari ini dapat berubah beberapa tahun lagi. Karena itu, kemampuan belajar ulang dan meningkatkan kompetensi harus menjadi kebiasaan.
Perubahan paradigma ini sejalan dengan kebutuhan ekonomi Indonesia yang semakin terhubung. Ketika transaksi digital tumbuh cepat, nilai ekonomi tidak hanya berada pada aplikasi besar. Nilai juga dapat diciptakan oleh jutaan pelaku usaha kecil yang mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi.
Karena itu, investasi terbesar dalam ekonomi digital sebenarnya bukan perangkat, melainkan manusia. Infrastruktur dapat dibangun relatif cepat, tetapi kemampuan manusia membutuhkan proses pendidikan, pengalaman, mentoring, dan budaya organisasi yang mendukung pembelajaran.
Peran Kampus, Pemerintah, Dunia Usaha, dan Keluarga
Tuntutan agar generasi muda menjadi pencipta nilai tidak boleh dibebankan kepada anak muda seorang diri. Mereka membutuhkan ekosistem. Kampus, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, komunitas, dan keluarga harus bergerak dalam arah yang sama.Kampus perlu memperkuat pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa dapat diberi tantangan untuk memecahkan masalah UMKM, mengembangkan prototipe layanan, menganalisis pasar, atau membangun model bisnis. Dosen berperan sebagai fasilitator dan mentor yang menghubungkan teori dengan kebutuhan nyata. Dengan cara ini, mahasiswa memperoleh portofolio yang dapat ditunjukkan kepada dunia kerja maupun calon pelanggan.
Pemerintah memiliki peran menyediakan infrastruktur, regulasi, pelatihan, akses pembiayaan, dan perlindungan konsumen. Kebijakan harus memastikan bahwa inovasi berkembang tanpa mengorbankan keamanan dan persaingan yang sehat. Pemerintah daerah juga dapat menjadi pembeli awal bagi solusi digital yang membantu pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan penguatan UMKM.
Dunia usaha dapat menyediakan program magang, mentoring, akses teknologi, dan kemitraan. Perusahaan besar tidak seharusnya hanya melihat generasi muda sebagai target pasar, tetapi juga sebagai sumber inovasi dan calon mitra. Kolaborasi dengan startup, mahasiswa, dan komunitas dapat membuka perspektif baru.
Keluarga memiliki peran yang sering kali tidak terlihat. Budaya belajar, keberanian mencoba, pengelolaan uang, disiplin, dan tanggung jawab digital dibentuk sejak rumah. Anak muda perlu didukung untuk bereksperimen, tetapi juga diajarkan bahwa kebebasan digital selalu disertai tanggung jawab.
Ekosistem seperti ini akan mengubah cara kita memandang keberhasilan. Anak muda tidak harus menjadi viral untuk dianggap berhasil. Mereka dapat berhasil ketika mampu membangun usaha yang sehat, menciptakan lapangan kerja, menyelesaikan masalah sosial, meningkatkan produktivitas, atau mengembangkan keahlian yang dibutuhkan industri.
Dengan demikian, agenda ekonomi digital harus menjadi agenda pembangunan manusia. Teknologi hanyalah medium. Pusat transformasi tetap manusia dengan pengetahuan, karakter, kreativitas, dan keberanian untuk menciptakan nilai.
Etika: Jangan Sampai Kecepatan Digital Mengalahkan Tanggung Jawab
Ada satu dimensi yang sering tertinggal ketika kita berbicara tentang ekonomi digital, yaitu etika. Kecepatan membuat dan menyebarkan informasi jauh lebih tinggi daripada kemampuan masyarakat memeriksa kebenarannya. Bagi generasi muda, tantangan ini sangat nyata karena ruang digital sekaligus menjadi tempat belajar, bekerja, berbisnis, dan membangun identitas.Pencipta nilai digital harus memahami bahwa kepercayaan merupakan aset ekonomi. Pelanggan akan kembali ketika mereka merasa aman, memperoleh informasi yang jujur, dan mendapatkan produk sesuai janji. Sebaliknya, praktik manipulatif, ulasan palsu, clickbait, penipuan, penggunaan data tanpa izin, atau konten yang menyesatkan dapat merusak reputasi dalam waktu singkat.
Etika juga penting dalam penggunaan kecerdasan buatan. Konten yang dihasilkan AI perlu diperiksa karena sistem dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak lengkap. Dalam konteks pendidikan dan pekerjaan, pengguna juga harus menghormati hak cipta dan menjaga kerahasiaan data. Teknologi yang semakin kuat justru menuntut tanggung jawab yang semakin tinggi.
Di sisi lain, generasi muda harus memiliki literasi finansial digital. Kemudahan pembayaran dan akses layanan keuangan dapat membantu aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat meningkatkan risiko konsumsi berlebihan dan keputusan finansial yang impulsif. Anak muda perlu membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami biaya layanan, menjaga keamanan akun, dan mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengambil keputusan keuangan.
Kita perlu membangun budaya digital yang produktif: kritis tetapi tidak sinis, kreatif tetapi tidak manipulatif, berani mencoba tetapi tetap menghitung risiko. Budaya seperti ini akan menjadi fondasi ekonomi digital yang sehat.
Kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya dengan teknologi. Ia dibangun melalui perilaku. Karena itu, pencipta nilai digital masa depan bukan hanya orang yang paling menguasai perangkat, tetapi juga orang yang mampu mempertanggungjawabkan dampak dari teknologi yang digunakannya.
Agenda Aksi: Lima Langkah Mengubah Konsumen Menjadi Pencipta
Perubahan besar selalu dimulai dari tindakan yang konkret. Jika kita ingin generasi muda menjadi pencipta nilai, ada setidaknya lima agenda yang dapat dilakukan secara bersama-sama.
Bagi generasi muda, prinsipnya sederhana: jangan menunggu teknologi sempurna. Mulailah dengan masalah nyata, buat solusi sederhana, uji, dengarkan pengguna, kemudian perbaiki. Ekonomi digital memberi ruang untuk iterasi yang cepat. Kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar selama dilakukan secara bertanggung jawab.
Bagi lembaga pendidikan, tantangannya adalah menyediakan ruang aman untuk eksperimen. Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan akses dan regulasi tidak menghambat inovasi. Bagi dunia usaha, tantangannya adalah membuka jalur kolaborasi. Dan bagi masyarakat, tantangannya adalah menghargai proses penciptaan nilai, bukan hanya hasil yang terlihat di permukaan.
Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, generasi muda dapat bergerak dari posisi sebagai pasar menjadi pelaku yang memiliki daya tawar. Mereka bukan sekadar mengikuti perubahan ekonomi digital, tetapi ikut membentuknya.
BPS mencatat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 72,78 persen pada 2024. Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa transaksi digital terus tumbuh kuat hingga 2026. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi digital semakin kokoh. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan penggunaan teknologi menghasilkan peningkatan produktivitas, kualitas pekerjaan, inovasi, dan kesejahteraan.
Karena itu, generasi muda harus didorong untuk mengambil posisi yang lebih aktif. Mereka perlu belajar bukan hanya bagaimana membeli, tetapi bagaimana menjual; bukan hanya bagaimana menonton, tetapi bagaimana mencipta; bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana merumuskan masalah yang dapat diselesaikan dengan AI; bukan hanya mengejar jumlah pengikut, tetapi membangun kepercayaan dan nilai.
Perubahan tersebut memerlukan keberanian. Menjadi pencipta nilai berarti berani menguji ide, menerima kritik, menghadapi kegagalan, dan memperbaiki diri. Di sinilah pendidikan memainkan peran penting: membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, etis, kreatif, dan mampu bekerja sama.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa banyak perangkat yang dimiliki atau seberapa cepat jaringan internet berkembang. Masa depan ditentukan oleh manusia yang menggunakan teknologi tersebut. Jika generasi muda memiliki kompetensi dan ekosistem yang tepat, ekonomi digital dapat menjadi mesin penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, peningkatan produktivitas, dan pemerataan kesempatan.
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mahir menjadi konsumen digital. Kita membutuhkan generasi yang berani menjadi pencipta nilai—membangun usaha, menghasilkan pengetahuan, menciptakan teknologi, memperkuat masyarakat, dan menghadirkan solusi. Dari sanalah ekonomi digital dapat benar-benar menjadi ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
- Pertama, ubah waktu digital menjadi waktu produktif. Sebagian waktu konsumsi konten perlu dialihkan menjadi belajar, membuat portofolio, membangun jaringan, atau mengembangkan produk.
- Kedua, mulai dari masalah di sekitar. Ide bisnis tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Banyak peluang muncul dari masalah sederhana dalam pendidikan, perdagangan, pertanian, perikanan, pariwisata, kesehatan, logistik, dan pelayanan publik.
- Ketiga, bangun portofolio, bukan hanya sertifikat. Anak muda perlu menunjukkan apa yang pernah mereka buat: desain, aplikasi, analisis data, kampanye pemasaran, produk UMKM, penelitian, atau proyek sosial.
- Keempat, manfaatkan komunitas. Kolaborasi dapat mempercepat proses belajar karena tidak semua keterampilan harus dikuasai seorang diri.
- Kelima, ukur dampak. Produk atau proyek digital harus dievaluasi dengan indikator yang jelas: jumlah pengguna, peningkatan penjualan, penghematan biaya, kepuasan pelanggan, atau manfaat sosial.
Bagi generasi muda, prinsipnya sederhana: jangan menunggu teknologi sempurna. Mulailah dengan masalah nyata, buat solusi sederhana, uji, dengarkan pengguna, kemudian perbaiki. Ekonomi digital memberi ruang untuk iterasi yang cepat. Kesalahan dapat menjadi bagian dari proses belajar selama dilakukan secara bertanggung jawab.
Bagi lembaga pendidikan, tantangannya adalah menyediakan ruang aman untuk eksperimen. Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan akses dan regulasi tidak menghambat inovasi. Bagi dunia usaha, tantangannya adalah membuka jalur kolaborasi. Dan bagi masyarakat, tantangannya adalah menghargai proses penciptaan nilai, bukan hanya hasil yang terlihat di permukaan.
Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, generasi muda dapat bergerak dari posisi sebagai pasar menjadi pelaku yang memiliki daya tawar. Mereka bukan sekadar mengikuti perubahan ekonomi digital, tetapi ikut membentuknya.
Penutup: Indonesia Membutuhkan Generasi Pencipta Nilai
Ekonomi digital memberikan peluang yang belum pernah sebesar ini kepada generasi muda. Internet membuka pasar, pembayaran digital mempermudah transaksi, AI meningkatkan kapasitas produksi, dan platform digital memungkinkan individu menjangkau pelanggan tanpa harus memiliki infrastruktur bisnis yang besar. Namun peluang tidak otomatis menjadi kesejahteraan.BPS mencatat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 72,78 persen pada 2024. Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa transaksi digital terus tumbuh kuat hingga 2026. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi digital semakin kokoh. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan penggunaan teknologi menghasilkan peningkatan produktivitas, kualitas pekerjaan, inovasi, dan kesejahteraan.
Karena itu, generasi muda harus didorong untuk mengambil posisi yang lebih aktif. Mereka perlu belajar bukan hanya bagaimana membeli, tetapi bagaimana menjual; bukan hanya bagaimana menonton, tetapi bagaimana mencipta; bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana merumuskan masalah yang dapat diselesaikan dengan AI; bukan hanya mengejar jumlah pengikut, tetapi membangun kepercayaan dan nilai.
Perubahan tersebut memerlukan keberanian. Menjadi pencipta nilai berarti berani menguji ide, menerima kritik, menghadapi kegagalan, dan memperbaiki diri. Di sinilah pendidikan memainkan peran penting: membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, etis, kreatif, dan mampu bekerja sama.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa banyak perangkat yang dimiliki atau seberapa cepat jaringan internet berkembang. Masa depan ditentukan oleh manusia yang menggunakan teknologi tersebut. Jika generasi muda memiliki kompetensi dan ekosistem yang tepat, ekonomi digital dapat menjadi mesin penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, peningkatan produktivitas, dan pemerataan kesempatan.
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mahir menjadi konsumen digital. Kita membutuhkan generasi yang berani menjadi pencipta nilai—membangun usaha, menghasilkan pengetahuan, menciptakan teknologi, memperkuat masyarakat, dan menghadirkan solusi. Dari sanalah ekonomi digital dapat benar-benar menjadi ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
*) Penulis adalah Dra. Yulies Herni, M.Pd., Dosen Universitas Pamulang.