GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Mahasiswa KKN Unila Periode II Tahun 2026 Bangun Incinerator Rocket Stove di Triharjo, Tekan Asap dari Pembakaran Sampah Plastik dan Pertanian

Foto dokumentasi kegiatan mahasiswa KKN Unila periode II 2026 bangun Uncinerator Rocket Stove di Triharjo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Lampung Selatan —
Persoalan sampah plastik, dedaunan, dan limbah pertanian yang selama ini hanya dibakar secara terbuka menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung Periode II Tahun 2026. Kondisi itu mendorong mereka menghadirkan solusi sederhana melalui pembangunan incinerator rocket stove di Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan.

Program tersebut dilaksanakan pada pekan ketiga masa KKN dan dikerjakan sepenuhnya secara mandiri oleh mahasiswa, mulai dari perancangan, pembelian bahan menggunakan anggaran kelompok sendiri, hingga proses pembangunan, tanpa melibatkan bantuan tenaga maupun dana dari warga setempat.

Incinerator rocket stove merupakan alat pembakar sampah yang dirancang dengan sistem aliran udara dan cerobong khusus sehingga proses pembakaran berlangsung lebih sempurna. Alat ini dirancang khusus untuk mengolah sampah plastik serta limbah dedaunan dan sisa pertanian yang selama ini menumpuk dan biasa dibakar langsung di lahan warga.

Sebelum menentukan desain dan lokasi, mahasiswa KKN melakukan pengamatan terhadap kebiasaan warga dalam mengelola sampah pertanian dan plastik di sekitar lahan. Mereka menemukan bahwa sampah plastik bercampur dengan sisa dedaunan dan jerami masih dibakar secara terbuka, tanpa memperhatikan dampak asap terhadap kesehatan maupun lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar mahasiswa merancang incinerator rocket stove sebagai salah satu program kerja mandiri unggulan KKN di Desa Triharjo.

“Kami melihat sampah plastik dan sisa pertanian seperti dedaunan dan jerami masih dibakar begitu saja secara terbuka, padahal asap yang dihasilkan cukup pekat. Dari sisi teknik sipil, kami merancang struktur pembakar yang efisien dari segi aliran udara dan penggunaan material, supaya panasnya cukup tapi asapnya bisa ditekan. Semua bahan dan biayanya kami siapkan sendiri dari anggaran kelompok, jadi warga tidak perlu mengeluarkan apa-apa,” kata mahasiswa KKN Unila, Farel, yang berasal dari jurusan Teknik Sipil.

“Kalau dilihat dari sisi teknik kimia, masalah utama pembakaran terbuka itu ada di reaksi pembakarannya yang tidak sempurna, apalagi untuk plastik. Suplai oksigennya kurang dan suhunya tidak stabil, jadi banyak senyawa berbahaya yang ikut terlepas ke udara. Di rocket stove ini, aliran udara dan suhu pembakarannya kami buat lebih terkontrol supaya reaksinya lebih sempurna dan residunya lebih sedikit,” kata mahasiswa KKN Unila, Fajar, yang berasal dari jurusan Teknik Kimia.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mempersiapkan sendiri seluruh bahan bangunan seperti bata, semen, dan pipa besi untuk cerobong menggunakan dana swadaya kelompok. Pembangunan dikerjakan oleh anggota KKN dari awal hingga selesai, dengan penyesuaian desain agar sesuai dengan karakteristik sampah plastik dan limbah pertanian yang menjadi sasaran utama alat ini.

Beri Edukasi

Tak berhenti pada pembangunan alat, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada warga terkait cara mengolah sampah plastik dan limbah pertanian secara bersamaan menggunakan rocket stove agar pembakarannya lebih bersih dan minim asap. Sisi keilmuan biologi turut dilibatkan untuk menjelaskan mengapa cara pembakaran terbuka selama ini menjadi akar masalah pengelolaan sampah di desa tersebut.

“Kalau ditelusuri, permasalahan utama di desa ini sebenarnya ada di pengolahan sampahnya. Sampah plastik dan limbah pertanian seperti dedaunan serta jerami selama ini dibakar begitu saja secara terbuka, sehingga prosesnya justru mencemari tanah dan udara di sekitar lahan. Keduanya sebenarnya tetap bisa dibakar bersamaan, asal menggunakan alat yang pembakarannya lebih sempurna seperti rocket stove ini, supaya asapnya bisa ditekan,” ujar mahasiswa KKN Unila, Langit, yang berasal dari jurusan Biologi.

Edukasi tersebut dinilai penting agar incinerator rocket stove tidak hanya menjadi solusi teknis pembakaran sampah. Lebih jauh, mahasiswa berharap warga memahami bahwa akar persoalan sampah plastik dan pertanian di desa tersebut ada pada cara pengolahannya, sehingga beralih dari pembakaran terbuka ke rocket stove menjadi kunci agar pembakaran lebih bersih meski jenis sampahnya dibakar bersamaan.

Direspons Positif Warga

Kehadiran incinerator rocket stove yang dibangun mandiri oleh mahasiswa ini mendapat respons positif dari warga Desa Triharjo. Meski tidak dilibatkan dalam proses pembangunan maupun pembiayaannya, sejumlah warga menyatakan ketertarikan untuk memanfaatkan alat tersebut guna mengolah sampah plastik dan sisa pertanian dari lahan mereka.

Bagi mahasiswa KKN, hal itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan program yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus melatih kemandirian mahasiswa dalam merancang dan membiayai program kerja sendiri.

Dirawat dan Dikembangkan Bersama

Mahasiswa berharap incinerator rocket stove yang telah dibangun secara mandiri ini dapat dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan oleh warga khusus untuk mengolah sampah plastik dan limbah pertanian, setelah masa KKN berakhir. Keberlanjutan program, menurut mahasiswa, sangat bergantung pada kepedulian warga dalam menjaga dan merawat alat tersebut.

Kolaborasi antara sisi teknik sipil, teknik kimia, dan biologi dalam program mandiri ini menunjukkan bahwa persoalan pengolahan sampah spesifik seperti plastik dan limbah pertanian tidak bisa diselesaikan hanya dari satu sudut pandang keilmuan.

Program tersebut juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk melihat langsung persoalan lingkungan di tengah masyarakat pedesaan, sekaligus melatih kemandirian dalam merancang, membiayai, dan membangun solusi teknis dari awal hingga akhir tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.

Melalui pembangunan incinerator rocket stove ini, mahasiswa KKN Unila berharap keberadaan alat tersebut dapat terus dimanfaatkan warga Desa Triharjo untuk mengolah sampah plastik dan limbah pertanian secara lebih bersih, sekaligus menjadi pengingat bahwa udara bersih dan lingkungan sehat merupakan tanggung jawab bersama.

Type above and press Enter to search.