GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dari Bangku Kuliah hingga Bangun Ekosistem Beauty, Kisah Inspiratif Destiyani Retno Ningrum Kembangkan Klinik Kecantikan KEFIR

Destiyani Retno Ningrum mulai merintis bisnis yang kemudian berkembang menjadi Kefir Derma Group. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Jakarta - Membangun bisnis di industri kecantikan tidak selalu berawal dari rencana besar. Bagi Destiyani Retno Ningrum, perjalanan tersebut justru dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku kuliah pada 2016.

Berbekal ketertarikan pada dunia kecantikan sekaligus keinginan menghadirkan produk yang memiliki pendekatan berbeda, Destiyani Retno Ningrum mulai merintis bisnis yang kemudian berkembang menjadi Kefir Derma Group. Kini, dirinya dikenal sebagai Founder & CEO Kefir Derma Group yang menaungi Kefir Skin Dermatology dan Kefir Derma Clinic.

Perjalanan hampir satu dekade tersebut membuat Destiyani Retno Ningrum melihat adanya perubahan besar dalam cara masyarakat memandang kecantikan. Menurutnya, konsumen saat ini semakin memahami bahwa merawat kulit bukan hanya tentang mengejar perubahan penampilan dalam waktu singkat.

“Dulu banyak orang memiliki beauty goals yang sangat berorientasi pada hasil instan. Sekarang saya melihat semakin banyak yang mulai bertanya bagaimana kulitnya bisa tetap sehat, kualitas kulitnya terjaga, dan bagaimana mereka bisa melakukan perawatan untuk jangka panjang,” ujar Destiyani Retno Ningrum.

Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan Kefir terus mengembangkan pendekatannya. Kefir Skin Dermatology hadir dengan identitas skincare berbahan dasar fermentasi susu yang kaya akan probiotik dan mikrobioma, yang dikembangkan dalam konteks perawatan kulit dan healthy aging.

Bagi Destiyani Retno Ningrum, membangun sebuah brand kecantikan bukan hanya mengenai produk yang dijual kepada konsumen. Lebih jauh, ada tanggung jawab untuk membantu masyarakat memahami kebutuhan kulit mereka.
Dari Satu Langkah Kecil Menjadi Perjalanan Panjang

Memulai bisnis ketika masih berada di bangku kuliah menjadi pengalaman penting bagi Destiyani Retno Ningrum. Ia belajar bahwa membangun sebuah usaha membutuhkan proses, konsistensi, sekaligus keberanian untuk terus beradaptasi.

Dari perjalanan tersebut, Kefir kemudian berkembang menjadi sebuah grup yang tidak hanya memiliki lini skincare nasional, tetapi juga jaringan klinik kecantikan.

Saat ini, Kefir Derma Clinic telah memiliki empat cabang yang tersebar di Margonda Depok, Pondok Kopi Jakarta Timur, Karawang, dan Tangerang.

“Kalau melihat perjalanan dari 2016 sampai sekarang, tentu banyak sekali proses yang kami lalui. Saya belajar bahwa bisnis itu tidak bisa hanya mengejar pertumbuhan. Kita juga harus terus mendengarkan kebutuhan customer dan mengikuti perkembangan ilmu serta teknologi,” ungkap Destiyani Retno Ningrum.

Salah satu lokasi utama Kefir Derma Clinic berada di Jalan Margonda Raya No. 333A, Depok, tepat di seberang Pom Bensin Margonda. Sementara cabang lainnya berada di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Pondok Kopi, Jakarta Timur, di seberang Stasiun Klender Baru.

Pengembangan sejumlah lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya Kefir mendekatkan layanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem yang sedang dibangun.
Beauty Tidak Lagi Sekadar Soal Penampilan

Menurut Destiyani Retno Ningrum, industri kecantikan saat ini memasuki fase yang lebih menarik. Konsumen mulai melihat kecantikan secara lebih menyeluruh.

Konsep healthy aging, misalnya, mulai mendapatkan perhatian. Anti-aging tidak lagi sekadar dipahami sebagai upaya melawan tanda-tanda penuaan, tetapi bagaimana seseorang dapat menjaga kesehatan dan kualitas kulit seiring bertambahnya usia.

Selain itu, muncul pula tren personalized beauty, ketika konsumen menginginkan rekomendasi skincare maupun treatment yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.

“Menurut saya, kecantikan ke depan akan semakin personal. Kondisi kulit setiap orang berbeda, sehingga pendekatannya juga tidak bisa selalu disamakan,” kata Destiyani Retno Ningrum.

Ia juga melihat hubungan antara beauty dan wellness semakin kuat. Kualitas tidur, stres, nutrisi, aktivitas fisik, paparan matahari, hingga kebiasaan sehari-hari mulai menjadi bagian dari pembahasan ketika seseorang berbicara tentang kesehatan kulit.

Pandangan tersebut turut memengaruhi visi Destiyani Retno Ningrum dalam mengembangkan KEFIR.

“Kami ingin KEFIR berkembang bukan hanya sebagai klinik atau skincare, tetapi menjadi beauty and wellness ecosystem. Ada layanan profesional, skincare, teknologi, dan edukasi yang bisa berjalan bersama,” jelas Destiyani Retno Ningrum.
Tidak Semua yang Viral Harus Diikuti

Di tengah derasnya informasi kecantikan di media sosial, Destiyani Retno Ningrum juga mengajak konsumen untuk lebih kritis.

Menurutnya, tren viral tidak selalu berarti buruk. Namun, popularitas sebuah produk atau metode tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan efektivitas.

Ia menyarankan masyarakat memperhatikan siapa yang menyampaikan informasi, kandungan yang digunakan, serta apakah klaim yang diberikan masih berada dalam batas yang realistis.

“Viral dapat menciptakan awareness, tetapi evidence yang menentukan kredibilitas,” ujar Destiyani Retno Ningrum.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena konsumen kini bisa mendapatkan informasi kecantikan dari berbagai sumber dalam waktu bersamaan, mulai dari dokter, influencer, teman, marketplace hingga algoritma media sosial.

Karena itu, menurut Destiyani Retno Ningrum, pelaku industri memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi konsumen.

“Jangan hanya menyampaikan manfaat. Konsumen juga perlu tahu siapa yang cocok, bagaimana cara menggunakan, berapa lama hasil yang realistis, dan kapan harus berkonsultasi,” tuturnya.
Melihat Masa Depan Industri Beauty

Dalam lima tahun ke depan, Destiyani Retno Ningrum melihat sedikitnya lima arah yang akan semakin kuat dalam industri kecantikan, yaitu healthy aging, personalized beauty, peningkatan kualitas kulit, integrasi beauty dan wellness, serta pemanfaatan teknologi dalam layanan kecantikan.

Persaingan industri pun dinilainya semakin memberikan banyak pilihan bagi konsumen. Kehadiran brand lokal, pemain global, hingga pengaruh perkembangan industri kecantikan Korea Selatan membuat pelaku usaha dituntut untuk terus meningkatkan kualitas.

“Persaingan yang sehat justru bagus untuk customer. Brand akan berlomba memberikan pelayanan dan hasil yang optimal. Konsumen akhirnya punya lebih banyak pilihan,” kata Destiyani Retno Ningrum.

Perjalanan Destiyani Retno Ningrum membangun KEFIR sejak bangku kuliah menjadi gambaran bahwa sebuah bisnis besar dapat tumbuh dari keberanian mengambil langkah pertama.

Kini, fokusnya bukan hanya memperluas jaringan, tetapi juga membangun kepercayaan melalui produk, layanan, teknologi, dan edukasi.

“Saya percaya masa depan beauty bukan tentang mengubah seseorang menjadi orang lain. Tetapi membantu setiap orang memiliki kulit yang lebih sehat, merasa nyaman dengan dirinya, dan menjadi versi terbaik dari dirinya,” pungkas Destiyani Retno Ningrum.

Type above and press Enter to search.