GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Rasa Malas, Musuh Sejati di Balik Ketakutan Gagal

Ilustrasi AI

Suara Time, Opini -
Takut gagal itu wajar. Hampir semua orang pernah merasakannya, mulai dari mahasiswa tingkat akhir sampai pengusaha yang sudah puluhan tahun terjun di bisnisnya. Tapi coba renungkan sebentar: benarkah yang bikin kita mundur itu rasa takut gagal, atau sebenarnya cuma malas yang menyamar jadi alasan yang kedengaran masuk akal?

Kalimat "saya takut gagal, jadi saya nggak berani coba" sering terdengar bijak. Padahal kalau digali lebih dalam, isinya sederhana saja: malas menghadapi proses yang panjang dan bikin capek. Gagal itu baru terjadi setelah ada usaha. Malas terjadi bahkan sebelum usaha itu dimulai. Jadi yang lebih dulu menghadang bukan kegagalan, tapi keengganan buat gerak dari titik nol.

Lihat saja pola yang sering terjadi di sekitar kita. Skripsi tertunda bukan karena takut nilainya jelek, tapi karena malas buka laptop dan mulai nulis bab satu. Ide bisnis nggak jalan-jalan bukan karena takut rugi, tapi karena malas keluar dari rutinitas yang sudah terlanjur nyaman. Rasa malas ini pintar menyamar jadi kehati-hatian, padahal isinya cuma penundaan yang dibungkus alasan yang kedengaran logis.

Riset psikologi soal prokrastinasi juga mendukung hal ini. Kebiasaan menunda pekerjaan ternyata lebih banyak disebabkan oleh manajemen emosi yang berantakan, bukan sekadar kurang waktu. Orang menunda karena nggak sanggup menghadapi rasa nggak nyaman saat mulai sesuatu yang berat. Dan rasa nggak nyaman itu jauh lebih gampang dihindari dengan bermalas-malasan daripada dihadapi langsung.

Padahal kegagalan justru punya nilai yang sering diremehkan. Setiap kali gagal, ada pelajaran yang didapat: cara ini ternyata nggak jalan, jadi bisa dicoba pendekatan lain yang lebih matang. Orang yang gagal lalu bangkit lagi selalu lebih dekat ke keberhasilan dibanding orang yang nggak pernah mencoba sama sekali. Sementara malas nggak kasih pelajaran apa-apa. Yang tersisa cuma waktu yang hilang percuma, tanpa ada yang bisa dipetik darinya.

Masalahnya, malas jauh lebih licin dibanding gagal. Gagal itu kelihatan jelas, ada buktinya, ada hasilnya meski pahit. Malas nggak meninggalkan jejak yang gampang dikenali. Yang tertinggal cuma waktu yang berlalu begitu saja, rencana yang nggak pernah dimulai, dan penyesalan yang baru terasa belakangan. Karena nggak kelihatan, banyak yang nggak sadar kalau musuh sebenarnya sedang bekerja diam-diam menghalangi setiap langkah maju.

Buat yang lagi merasa stuck, coba jujur ke diri sendiri dulu. Ini beneran takut gagal, atau sebenarnya cuma males menghadapi proses yang nggak nyaman di awal? Jawaban ini penting, karena cara mengatasinya beda. Takut butuh keberanian buat coba. Malas butuh disiplin buat mulai, meski nggak pengin-pengin amat.

Cara paling gampang buat lawan rasa malas adalah mengecilkan target. Nggak usah mikirin selesai skripsi dalam sehari, cukup fokus nulis satu paragraf hari ini. Nggak usah mikirin bikin bisnis besar dalam sebulan, cukup bikin satu produk sederhana minggu ini. Target kecil lebih gampang dilawan malasnya dibanding target besar yang bikin ciut duluan sebelum mulai.

Pada akhirnya, gagal bukan sesuatu yang perlu ditakuti berlebihan. Gagal itu bagian dari proses yang wajar, bahkan perlu, buat sampai ke sesuatu yang berarti. Musuh sesungguhnya adalah rasa malas yang bikin kita nggak pernah sampai ke titik untuk gagal atau berhasil. Kalahkan dulu rasa malasnya, baru kegagalan akan jadi batu loncatan menuju keberhasilan yang sebenarnya.

Oleh: Muhamad Fatawa Alam Ghiri

NIM 221092100017

Mahasiswa Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang

Type above and press Enter to search.