Sejumlah mahasiswa mengikuti kegiatan literasi digital yang membahas pemanfaatan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta etika bermedia sosial sebagai upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis di era digital.

Penulis : Vanessa, Universitas Katolik Musi Charitas Palembang

Suaratime, Opini - Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menggunakan internet tidak lagi cukup. Generasi Z dituntut memiliki literasi digital agar mampu memilah informasi, memahami etika bermedia sosial, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Sayangnya, masih banyak anak muda yang menganggap literasi digital hanya sebatas kemampuan mengoperasikan aplikasi atau membuat konten menarik.

Faktanya, media sosial telah menjadi ruang publik baru. Setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan dapat memengaruhi opini masyarakat. Tanpa kemampuan berpikir kritis, seseorang mudah terjebak dalam penyebaran hoaks, ujaran kebencian, maupun informasi yang belum terverifikasi.

Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga menghadirkan tantangan baru. AI mampu menghasilkan gambar, video, bahkan tulisan yang sangat menyerupai karya manusia. Di satu sisi, teknologi ini membantu meningkatkan produktivitas. Namun di sisi lain, AI juga dapat disalahgunakan untuk membuat informasi palsu, manipulasi visual, hingga penipuan digital.

Oleh karena itu, literasi digital tidak hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami konteks, mengevaluasi informasi, serta mempertimbangkan dampak dari setiap aktivitas digital yang dilakukan.

Lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi digital. Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengintegrasikan materi mengenai etika digital, keamanan siber, serta pemanfaatan AI secara bijaksana ke dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta inovasi yang bertanggung jawab.

Di lingkungan keluarga, orang tua juga perlu menjadi teladan dalam menggunakan media sosial. Diskusi mengenai keamanan data pribadi, jejak digital, hingga pentingnya menghargai pendapat orang lain perlu dibangun sejak dini agar anak terbiasa menggunakan internet secara sehat.

Pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat juga perlu bersinergi menciptakan ekosistem digital yang aman. Kampanye literasi digital tidak boleh berhenti pada seminar atau slogan semata, melainkan diwujudkan melalui program yang berkelanjutan dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. Yang menentukan manfaat atau dampaknya bukanlah teknologinya, melainkan bagaimana manusia menggunakannya. Literasi digital menjadi bekal utama agar generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis.