GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dari Posyandu Hingga Pengajian, Kader Jakarta Dorong Aksi Climate–TB di 18 Kecamatan

Dok. Istimewa

Jakarta –
Perubahan iklim semakin diakui sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya meningkatkan frekuensi bencana seperti banjir dan gelombang panas, perubahan iklim juga memengaruhi penyebaran penyakit menular, mengganggu ketahanan pangan, serta memperburuk berbagai faktor risiko kesehatan, termasuk tuberkulosis (TB).

Kesadaran akan pentingnya mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam sistem kesehatan, khususnya TB menjadi salah satu fokus dalam Kick-off Program CARES (Climate Action for Resilient and Empowered Healthcare Staff) yang diselenggarakan KUMPUL Impact pada 21 Oktober 2025 dengan dukungan AVPN.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Budi Haryanto (Universitas Indonesia) menegaskan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan telah nyata dirasakan di Indonesia dan bersifat jangka panjang. Perubahan iklim tidak hanya meningkatkan risiko penyakit menular seperti malaria dan tuberkulosis, tetapi juga memperburuk penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes. Selain itu, banjir dan bencana hidrometeorologi mengganggu produksi pangan, meningkatkan kerentanan gizi masyarakat, serta memunculkan tantangan kesehatan mental akibat hilangnya mata pencaharian, tempat tinggal, dan rasa aman.

Kick-off juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama dalam penguatan sistem kesehatan menghadapi perubahan iklim, di antaranya belum adanya kebijakan nasional yang secara khusus mengintegrasikan agenda iklim dan kesehatan, khususnya keterkaitan dengan penguatan layanan  TB, masih terbatasnya riset yang menghubungkan variabel iklim dengan kejadian penyakit, rendahnya kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal, serta perlunya koordinasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan komunitas.

Dampak dari tantangan ini tidak berhenti pada aspek kesehatan fisik dan mental semata. Bagi banyak keluarga, TB yang diperparah oleh perubahan iklim juga berarti hilangnya pendapatan harian, terhentinya usaha kecil, dan bertambahnya beban biaya pengobatan. Ketahanan ekonomi masyarakat, dengan demikian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan layanan kesehatan itu sendiri.

Berangkat dari tantangan tersebut, KUMPUL Impact mengembangkan Program CARES (Climate Action for Resilient and Empowered Healthcare Staff) sebagai program percontohan yang menghubungkan isu perubahan iklim dan tuberkulosis (Climate–TB Nexus) melalui penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan komunitas.

Sebagai langkah awal, CARES mengembangkan Modul Climate–TB yang dirancang untuk membantu tenaga kesehatan dan kader komunitas memahami keterkaitan antara perubahan iklim dan pengendalian TB. Modul ini kemudian digunakan dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas yang melibatkan tenaga kesehatan dan kader komunitas.

Selain itu, CARES juga menyelenggarakan Webinar Series Climate–TB melalui platform Plataran Sehat. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kesadaran mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat dan layanan TB.

Penguatan kapasitas kemudian dilanjutkan melalui kolaborasi dengan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Pusat dalam pelatihan kader TB tangguh iklim. Melalui pelatihan ini, kader yang telah berpengalaman dalam pendampingan TB mendapatkan perspektif baru mengenai bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi risiko kesehatan masyarakat, kelompok rentan, serta akses terhadap layanan kesehatan.

Namun perjalanan CARES tidak berhenti di ruang pelatihan.

Sebagai tindak lanjut, kader didorong untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) di wilayah masing-masing. Hingga saat ini, aksi komunitas telah dilaksanakan di 10 kecamatan di Jakarta Selatan dan 8 kecamatan di Jakarta Barat.

Menariknya, setiap wilayah mengembangkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat. Edukasi Climate–TB dilakukan melalui berbagai ruang sosial yang telah hidup di tengah masyarakat, mulai dari kegiatan Posyandu, pengajian, pertemuan warga, hingga kegiatan rekreasi dan piknik edukatif.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penguatan layanan kesehatan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas kesehatan. Sebaliknya, perubahan dapat tumbuh dari ruang-ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Melalui CARES, kami ingin menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu kesehatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas kader dan aksi komunitas menjadi bagian penting dalam membangun layanan TB yang lebih tangguh dan adaptif," ujar Sarita, Program & Impact Director KUMPUL Impact

Melalui pengembangan pengetahuan, penguatan kapasitas, dan aksi berbasis komunitas, CARES berupaya membangun model layanan TB yang lebih responsif terhadap tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan lingkungan dan komunitasnya.

Tentang CARES

CARES (Climate Action for Resilient and Empowered Healthcare Staff) merupakan program yang diinisiasi oleh KUMPUL Impact melalui dukungan AVPN untuk memperkuat layanan tuberkulosis (TB) yang tangguh terhadap perubahan iklim di Indonesia. Program ini berfokus pada peningkatan pengetahuan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader komunitas, serta pengembangan aksi berbasis masyarakat untuk mendukung layanan TB yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Tentang KUMPUL Impact

KUMPUL Impact merupakan bagian dari KUMPUL yang berfokus pada pengembangan kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Melalui berbagai program, KUMPUL Impact mendukung pengusaha tahap awal dan komunitas lokal melalui penguatan kapasitas, akses pasar, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkuat ketahanan masyarakat, dan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Type above and press Enter to search.