GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Anak Muda dan Krisis Iklim: Peduli di Medsos, Cuek di Kehidupan Nyata

Ilustrasi AI

Suara Time, Opini -
Setiap ada bencana banjir besar atau gelombang panas ekstrem, linimasa media sosial langsung ramai. Postingan keprihatinan, twibbon dukungan, sampai caption panjang soal krisis iklim bertebaran di mana-mana. Tapi coba tengok lagi beberapa hari kemudian, semuanya kembali normal. Sedotan plastik tetap dipakai, motor tetap dipanaskan biar keren di video, sampah tetap dibuang sembarangan. Peduli lingkungan ternyata cuma bertahan sepanjang tren itu viral.

Fenomena ini punya nama sendiri di kalangan peneliti perilaku: slacktivism, atau aktivisme yang berhenti di layar. Nge-like, share, dan komentar terasa sudah cukup untuk merasa sudah berkontribusi, padahal dampaknya ke lingkungan nyaris nol. Rasa sudah berbuat baik ini justru berbahaya, karena membuat orang merasa tidak perlu melakukan tindakan nyata lagi setelah posting sesuatu di media sosial.

Data mendukung kesenjangan ini. Survei dari berbagai lembaga riset menunjukkan mayoritas anak muda Indonesia mengaku peduli isu perubahan iklim dan mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Tapi kalau ditanya soal kebiasaan sehari-hari, angkanya jomplang jauh. Penggunaan kantong plastik sekali pakai masih tinggi, kebiasaan memilah sampah masih rendah, dan penggunaan transportasi umum masih kalah populer dibanding motor pribadi yang dianggap lebih praktis.

Bukan berarti kepedulian di media sosial itu sepenuhnya sia-sia. Kampanye digital tetap berguna untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran kolektif. Masalahnya muncul ketika kesadaran itu berhenti di situ saja, tidak pernah turun ke tindakan konkret. Ibaratnya, tahu penyakitnya tapi tidak pernah minum obatnya.

Ada beberapa alasan kenapa kesenjangan ini terjadi. Pertama, tindakan nyata terasa merepotkan dibanding sekadar posting. Bawa tumbler sendiri, pilah sampah, atau naik angkutan umum butuh usaha ekstra yang tidak semua orang mau lakukan. Kedua, dampak individu terasa kecil dibanding skala masalah yang begitu besar, sehingga muncul pikiran percuma juga saya berubah kalau industri besar masih jadi penyumbang emisi terbesar. Padahal, kebiasaan kecil yang dilakukan banyak orang secara konsisten tetap punya efek yang signifikan.

Ketiga, ada faktor gengsi sosial yang justru berlawanan arah. Ikut tren posting soal iklim dianggap keren dan gampang dilakukan. Sementara bawa kantong belanja sendiri ke minimarket kadang dianggap ribet atau bahkan norak oleh sebagian orang. Norma sosial di dunia maya dan dunia nyata ternyata berbeda, dan sayangnya norma di dunia nyata masih kalah kuat mendorong perubahan kebiasaan.

Perubahan sebenarnya tidak butuh gerakan besar dari awal. Cukup mulai dari kebiasaan kecil yang konsisten dijalankan. Bawa botol minum sendiri daripada beli air kemasan setiap hari. Kurangi jajan makanan yang bungkusnya berlapis-lapis plastik. Pilih jalan kaki atau sepeda untuk jarak dekat, bukan selalu mengandalkan kendaraan bermotor. Kebiasaan kecil ini memang tidak seviral twibbon, tapi dampaknya jauh lebih nyata dibanding sekadar status media sosial.

Kampus dan organisasi kemahasiswaan juga bisa ambil peran lebih besar, tidak sekadar mengadakan seminar sehari lalu selesai begitu saja. Program berkelanjutan seperti bank sampah kampus, gerakan minim plastik di kantin, atau advokasi kebijakan ramah lingkungan di tingkat kampus bisa jadi contoh nyata yang lebih berdampak dibanding sekadar kampanye satu hari yang ramai lalu dilupakan.

Krisis iklim tidak akan selesai hanya dengan tagar dan twibbon. Ia butuh perubahan kebiasaan yang konsisten, dari hal-hal kecil yang terlihat sepele. Anak muda punya suara yang besar di ruang digital, tapi suara itu baru benar-benar berarti kalau diikuti tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. Peduli tidak cukup hanya diketik, ia harus dijalani.

Oleh: Muhamad Fatawa Alam Ghiri

NIM 221092100017

Mahasiswa Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang

Type above and press Enter to search.