Foto: Kegiatan Pemasangan Lampu Solar

Suara Time, Aceh - Gampong Juli Meunasah Teungoh, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, sebenarnya bukan desa yang sepenuhnya gelap. Sebagian ruas jalan utama sudah memiliki penerangan. Namun di banyak titik — terutama jalur evakuasi, gang-gang permukiman, dan area yang mengarah ke titik kumpul warga — cahaya masih belum merata. Kondisi itu terasa paling berbahaya ketika banjir datang pada malam hari dan warga harus bergerak cepat meninggalkan rumah.

Banjir November 2025 menjadi pengingat nyata. Sebanyak 82 kepala keluarga atau sekitar 260 jiwa terdampak langsung. Air masuk hingga sekitar satu meter ke dalam permukiman. Di titik-titik yang belum terjangkau penerangan, warga harus meraba jalan dalam gelap, melewati saluran yang tidak terlihat, sambil membawa anak-anak dan barang-barang yang sempat diselamatkan.

Untuk menjawab kondisi itu, puluhan mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh hadir di gampong ini sejak akhir Januari 2026. Kegiatan berlangsung hingga awal April 2026, melibatkan 57 mahasiswa dari tiga program studi yang berbeda.

Mahasiswa tidak datang sekaligus. Tim awal hadir lebih dulu untuk berkoordinasi dengan perangkat gampong, mengenal warga, dan memetakan titik-titik yang paling membutuhkan penerangan. Pemasangan lampu jalan bertenaga surya kemudian dilakukan secara bertahap dan dikerjakan bersama warga secara gotong royong.

Keuchik Gampong Juli Meunasah Teungoh, Sulaiman BP, menyambut kehadiran mahasiswa dan hasil kegiatan ini dengan antusias.

"Penerangan di gampong kami memang belum merata. Masih banyak titik yang gelap, terutama di jalur yang dilewati warga saat evakuasi. Dengan adanya lampu mandiri ini, kami berharap bukan hanya soal terang — tapi akses warga ke area-area itu benar-benar terbuka, baik saat darurat maupun sehari-hari," ujar Sulaiman BP.

Lampu yang dipasang menggunakan tenaga surya sehingga tidak bergantung pada jaringan listrik PLN. Ini menjadi pertimbangan penting — saat banjir datang, gangguan listrik hampir selalu terjadi bersamaan. Lampu yang ikut padam justru tidak menyelesaikan masalah.

Setelah pemasangan, sosialisasi dan pelatihan perawatan digelar secara bertahap. Warga dibekali pengetahuan dasar agar mampu merawat lampu-lampu tersebut secara mandiri. Di sela kegiatan, mahasiswa juga terlibat dalam gotong royong membersihkan lingkungan sekitar jalur evakuasi dan membenahi area titik kumpul warga.

Seluruh lampu yang terpasang kini diserahkan kepada Pemerintah Gampong untuk dikelola bersama Satgas Bencana dan Pageu Gampong. Taufiq Iqbal, dosen pendamping sekaligus ketua pelaksana dari STMIK Indonesia Banda Aceh, menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi fokus utama sejak awal.

"Kami tidak hanya pasang lalu pergi. Warga sudah dilatih cara merawatnya. Harapannya lampu ini bisa bertahan lama dan benar-benar bermanfaat untuk warga, bukan hanya saat program berlangsung," ujar Taufiq Iqbal.