GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dari Mimbar ke Media Sosial: Sova Sakinah Dorong Dakwah Islam Masuk Arus Digital

Workshop “Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” yang digelar oleh Universitas Islam As-Syafi’iyah. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Jakarta — Transformasi digital tidak hanya mengubah lanskap bisnis dan komunikasi, tetapi juga cara penyebaran nilai-nilai keagamaan. Dalam Workshop “Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” yang digelar oleh Universitas Islam As-Syafi’iyah, isu ini menjadi pembahasan utama, terutama terkait peran media sosial dalam membentuk pemahaman keislaman masyarakat.

Sorotan tertuju pada Sova Sakinah Karim, M.Si, yang hadir sebagai praktisi digital sekaligus pembicara. Ia dikenal sebagai founder PT Teknologi Sembilan Mulia dan Nine Nobles Digital Agency. Dalam paparannya, Sova menekankan bahwa dakwah tidak bisa lagi bergantung pada metode konvensional semata.

Berangkat dari latar belakang keluarga yang kuat di bidang pendidikan dan dakwah, Sova membawa perspektif yang berbeda. Ia merupakan putri dari Abdul Karim Abdullah, pendiri Yayasan Pendidikan Islam Al-Karimah, serta Ustadzah Hj Tasuah Karim, seorang penceramah dan qoriah nasional. Lingkungan tersebut membentuk pemahamannya terhadap pentingnya menjaga otoritas keilmuan agama, sekaligus mendorongnya untuk membawa dakwah ke medium yang lebih relevan dengan generasi saat ini.

“Generasi hari ini tidak lagi mencari jawaban pertama di buku atau forum fisik, tetapi di media sosial. Jika ruang itu kosong dari sumber yang kredibel, maka akan diisi oleh narasi yang berpotensi menyesatkan,” ujarnya.

Menurut Sova, media sosial harus ditempatkan sebagai kanal utama dalam dakwah, bukan sekadar pelengkap. Ia menilai masih banyak praktisi pendidikan agama yang ragu untuk masuk ke ranah digital, padahal tantangan terbesar justru datang dari sana—yakni derasnya informasi yang tidak terkurasi dan berpotensi menimbulkan miskonsepsi.

Sebagai penerus nilai-nilai yang dibangun keluarganya, Sova mengambil peran dengan pendekatan berbeda: menggabungkan keilmuan agama dengan strategi komunikasi digital. Ia menekankan pentingnya memahami audiens, pola distribusi konten, serta teknik penyampaian yang relevan tanpa mengurangi substansi.

“Ini bukan soal mengubah isi dakwah, tetapi cara menyampaikannya. Substansi tetap, pendekatan yang harus menyesuaikan,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa kehadiran para akademisi dan praktisi Pendidikan Agama Islam di media sosial menjadi krusial untuk menyeimbangkan arus informasi. Tanpa keterlibatan aktif, ruang digital akan terus dipenuhi oleh potongan konten yang tidak utuh dan berpotensi memicu kesalahpahaman.

Workshop ini diharapkan menjadi titik awal perubahan cara pandang para pendidik terhadap teknologi. Melalui pendekatan yang lebih adaptif, integrasi antara nilai keislaman dan media digital diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih relevan dan berdampak luas.

Melalui kegiatan ini, Universitas Islam As-Syafi’iyah kembali menegaskan perannya dalam menjembatani tradisi keilmuan dengan tuntutan era digital.

Komentar0

Type above and press Enter to search.