![]() |
| Legenda Manchester United, Paul Scholes. (Foto: Dok/Ist). |
Dalam keterangannya, Scholes mengakui bahwa komentar yang ia sampaikan bersama mantan rekan setimnya, Nicky Butt, sempat menimbulkan kontroversi. Menurut Scholes, inti pembahasan mereka adalah ketidakseimbangan fisik antara Martínez dan striker Manchester City, Erling Haaland.
“Intinya yang ingin saya dan Nicky sampaikan adalah bahwa secara fisik, mereka tidak seimbang. Mungkin cara penyampaiannya kurang tepat jika ditonton ulang, tapi itu hanya bercanda. Namun, harus diakui bahwa Lisandro tampil brilian di derbi Manchester,” ujar Scholes.
Meski memuji penampilan Martínez dalam laga bertajuk Derbi Manchester tersebut, Scholes mengungkapkan bahwa hubungannya dengan bek asal Argentina itu sempat memanas. Ia menyebut keduanya pernah terlibat komunikasi melalui Instagram, di mana Martínez menyatakan kekecewaannya atas komentar Scholes.
“Dia mengatakan telah kehilangan semua rasa hormat kepada saya. Biasanya saya tidak akan membicarakan hal ini, tetapi karena dia sudah menyampaikannya terlebih dahulu, saya rasa tidak masalah untuk jujur,” lanjut Scholes.
Namun demikian, mantan gelandang tim nasional Inggris itu menegaskan bahwa pandangannya terhadap Martínez tidak berubah. Ia masih meragukan kemampuan Manchester United untuk meraih gelar juara liga dengan komposisi pemain saat ini, termasuk dengan Martínez sebagai pilar di lini belakang.
Scholes juga menyinggung perbedaan cara generasinya merespons kritik. Menurutnya, kritik justru menjadi bahan bakar motivasi bagi para pemain di eranya. “Ketika kami dikritik, kami mengingatnya dan menjadikannya motivasi. Kami tidak membalas,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memunculkan beragam reaksi, termasuk perbandingan dengan perjalanan karier Scholes sendiri pasca pensiun sebagai pemain. Publik menilai bahwa kritik di era sepak bola modern jauh lebih keras dan personal dibandingkan masa kejayaan Manchester United. Bahkan, pengalaman singkat Scholes sebagai pelatih di Oldham Athletic pada 2019—yang hanya bertahan sekitar satu bulan sebelum mengundurkan diri—kerap dijadikan contoh betapa beratnya tekanan dan kritik di dunia kepelatihan.
Terlepas dari pro dan kontra, komentar Paul Scholes kembali menegaskan bahwa Derbi Manchester bukan sekadar pertandingan, melainkan juga panggung perdebatan opini, kritik, dan ekspektasi besar terhadap masa depan Manchester United. Isu ini dipastikan masih akan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan suporter dan pengamat sepak bola Inggris dalam waktu dekat.

Komentar0