![]() |
| JKSN Daerah Istimewa Yogyakarta dukung penuh KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai Rais Aam NU. (Foto: Dok/Ist). |
JKSN DIY menilai bahwa tantangan global saat
ini tidak hanya berdimensi eksternal, tetapi juga berdampak langsung pada
dinamika internal NU. Arus informasi yang cepat dan masif, perubahan pola
keberagamaan masyarakat, serta meningkatnya polarisasi wacana keagamaan
menuntut NU untuk tampil lebih adaptif tanpa kehilangan jati diri. Dalam
situasi tersebut, kepemimpinan Rois ‘Am dipandang memiliki peran strategis
sebagai penjaga arah keulamaan dan penuntun sikap jam’iyyah di tengah perubahan
zaman.
Menurut Rofiq Anwar, Ketua JKSN DIY, NU membutuhkan pemimpin yang
mampu membaca peta tantangan global secara jernih, sekaligus memiliki keteguhan
dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Moderasi Islam yang menjadi
ciri khas NU tidak boleh tergerus oleh ekstremisme maupun pragmatisme
berlebihan. “Kepemimpinan ulama yang visioner diperlukan agar NU tetap kokoh
dalam prinsip, namun luwes dalam pendekatan, sehingga mampu menjawab tantangan
global dengan sikap yang menenteramkan,” demikian ditegaskan JKSN DIY dalam
pernyataan sikapnya.
Dinamika global juga berdampak pada tantangan
kebangsaan yang dihadapi NU. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di
Indonesia, NU memikul tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan, pluralisme,
dan stabilitas sosial. Tantangan global seperti konflik identitas, krisis
kemanusiaan, dan perubahan geopolitik menuntut NU untuk terus memainkan peran
strategisnya sebagai perekat umat dan bangsa. Dalam konteks ini, kepemimpinan
ulama yang memiliki wawasan kebangsaan dan legitimasi keulamaan dipandang
menjadi kebutuhan mendesak.
JKSN DIY memandang Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai
figur yang merepresentasikan kepemimpinan ulama visioner tersebut. Rekam jejak
beliau dalam dunia pesantren dan pendidikan menunjukkan kemampuan menjembatani
tradisi keulamaan dengan tuntutan global. Kepemimpinan yang berakar pada nilai pesantren, namun terbuka terhadap
penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan wawasan global, dinilai
relevan dengan tantangan NU saat ini.
Sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren
Amanatul Ummah, KH. Asep dikenal mengembangkan model pendidikan pesantren yang
menekankan keseimbangan antara pendalaman ilmu agama, pembentukan akhlak, dan
kesiapan santri menghadapi dinamika global. Santri tidak hanya dibekali
kemampuan keilmuan, tetapi juga didorong memiliki wawasan kebangsaan dan
kepekaan sosial. JKSN DIY menilai, pendekatan ini menunjukkan visi kepemimpinan
yang tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi berpandangan ke depan.
Selain itu, kiprah KH. Asep dalam penguatan
organisasi guru NU melalui Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) dipandang
sebagai kontribusi strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan NU. Di
tengah tantangan global, pendidikan menjadi benteng utama dalam menjaga nilai
keulamaan dan moderasi Islam. Penguatan peran guru NU dinilai sebagai langkah
visioner untuk memastikan keberlanjutan kaderisasi ulama dan intelektual NU di
masa depan.
JKSN DIY juga menekankan bahwa kepemimpinan
ulama visioner harus mampu merawat persatuan internal NU. Tantangan global
sering kali memicu fragmentasi dan perbedaan pandangan di tingkat akar rumput.
Oleh karena itu, Rois ‘Am dituntut memiliki kemampuan meredam friksi,
memperkuat konsensus ulama, dan menjaga kepercayaan warga nahdliyin terhadap
jam’iyyah. Dalam hal ini, kepemimpinan yang berwibawa secara keilmuan dan
menenteramkan secara moral dipandang sangat penting.
Melalui pernyataan ini, JKSN DIY menegaskan
bahwa sorotan terhadap tantangan global NU bukanlah bentuk kekhawatiran semata,
melainkan panggilan untuk memperkuat kepemimpinan keulamaan. Dukungan terhadap
figur ulama visioner seperti Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dipandang
sebagai ikhtiar strategis untuk memastikan NU tetap relevan, moderat, dan berperan
aktif dalam menjawab tantangan global tanpa kehilangan identitasnya sebagai
rumah besar ulama dan umat.
Dengan kepemimpinan yang visioner, berakar
pada tradisi keulamaan, dan memiliki wawasan global, JKSN DIY meyakini
Nahdlatul Ulama akan mampu menjaga marwahnya, memperkuat peran moderasi Islam,
serta terus menjadi pilar penting dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan
kebangsaan di Indonesia.

Komentar0