GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

JKSN DIY Soroti Tantangan Global NU dan Pentingnya Kepemimpinan Ulama Visioner Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim

JKSN Daerah Istimewa Yogyakarta dukung penuh KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai Rais Aam NU. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Yogyakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mendatang, berbagai elemen keumatan menyoroti semakin kompleksnya tantangan global yang dihadapi jam’iyyah. Globalisasi nilai, percepatan digitalisasi dakwah, hingga penetrasi ideologi transnasional dinilai membawa konsekuensi serius terhadap keberlanjutan tradisi keulamaan dan peran NU sebagai penjaga moderasi Islam. Dalam konteks tersebut, Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan pentingnya kepemimpinan ulama yang visioner dan berakar kuat pada tradisi pesantren, sebagaimana tercermin dalam sosok KH. Asep Saifuddin Chalim.

JKSN DIY menilai bahwa tantangan global saat ini tidak hanya berdimensi eksternal, tetapi juga berdampak langsung pada dinamika internal NU. Arus informasi yang cepat dan masif, perubahan pola keberagamaan masyarakat, serta meningkatnya polarisasi wacana keagamaan menuntut NU untuk tampil lebih adaptif tanpa kehilangan jati diri. Dalam situasi tersebut, kepemimpinan Rois ‘Am dipandang memiliki peran strategis sebagai penjaga arah keulamaan dan penuntun sikap jam’iyyah di tengah perubahan zaman.

Menurut Rofiq Anwar, Ketua JKSN DIY, NU membutuhkan pemimpin yang mampu membaca peta tantangan global secara jernih, sekaligus memiliki keteguhan dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Moderasi Islam yang menjadi ciri khas NU tidak boleh tergerus oleh ekstremisme maupun pragmatisme berlebihan. “Kepemimpinan ulama yang visioner diperlukan agar NU tetap kokoh dalam prinsip, namun luwes dalam pendekatan, sehingga mampu menjawab tantangan global dengan sikap yang menenteramkan,” demikian ditegaskan JKSN DIY dalam pernyataan sikapnya.

Dinamika global juga berdampak pada tantangan kebangsaan yang dihadapi NU. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU memikul tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan, pluralisme, dan stabilitas sosial. Tantangan global seperti konflik identitas, krisis kemanusiaan, dan perubahan geopolitik menuntut NU untuk terus memainkan peran strategisnya sebagai perekat umat dan bangsa. Dalam konteks ini, kepemimpinan ulama yang memiliki wawasan kebangsaan dan legitimasi keulamaan dipandang menjadi kebutuhan mendesak.

JKSN DIY memandang Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai figur yang merepresentasikan kepemimpinan ulama visioner tersebut. Rekam jejak beliau dalam dunia pesantren dan pendidikan menunjukkan kemampuan menjembatani tradisi keulamaan dengan tuntutan global. Kepemimpinan yang berakar pada nilai pesantren, namun terbuka terhadap penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan wawasan global, dinilai relevan dengan tantangan NU saat ini.

Sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH. Asep dikenal mengembangkan model pendidikan pesantren yang menekankan keseimbangan antara pendalaman ilmu agama, pembentukan akhlak, dan kesiapan santri menghadapi dinamika global. Santri tidak hanya dibekali kemampuan keilmuan, tetapi juga didorong memiliki wawasan kebangsaan dan kepekaan sosial. JKSN DIY menilai, pendekatan ini menunjukkan visi kepemimpinan yang tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi berpandangan ke depan.

Selain itu, kiprah KH. Asep dalam penguatan organisasi guru NU melalui Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) dipandang sebagai kontribusi strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan NU. Di tengah tantangan global, pendidikan menjadi benteng utama dalam menjaga nilai keulamaan dan moderasi Islam. Penguatan peran guru NU dinilai sebagai langkah visioner untuk memastikan keberlanjutan kaderisasi ulama dan intelektual NU di masa depan.

JKSN DIY juga menekankan bahwa kepemimpinan ulama visioner harus mampu merawat persatuan internal NU. Tantangan global sering kali memicu fragmentasi dan perbedaan pandangan di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, Rois ‘Am dituntut memiliki kemampuan meredam friksi, memperkuat konsensus ulama, dan menjaga kepercayaan warga nahdliyin terhadap jam’iyyah. Dalam hal ini, kepemimpinan yang berwibawa secara keilmuan dan menenteramkan secara moral dipandang sangat penting.

Melalui pernyataan ini, JKSN DIY menegaskan bahwa sorotan terhadap tantangan global NU bukanlah bentuk kekhawatiran semata, melainkan panggilan untuk memperkuat kepemimpinan keulamaan. Dukungan terhadap figur ulama visioner seperti Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dipandang sebagai ikhtiar strategis untuk memastikan NU tetap relevan, moderat, dan berperan aktif dalam menjawab tantangan global tanpa kehilangan identitasnya sebagai rumah besar ulama dan umat.

Dengan kepemimpinan yang visioner, berakar pada tradisi keulamaan, dan memiliki wawasan global, JKSN DIY meyakini Nahdlatul Ulama akan mampu menjaga marwahnya, memperkuat peran moderasi Islam, serta terus menjadi pilar penting dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Indonesia.

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.