| Mahasiswa dan dosen FDB Universitas Ciputra Surabaya berdiskusi sambil mengamati material dan detail karya tekstil. |
Suara Time, Suarabaya— Di lorong Universitas Ciputra Surabaya, nuansa merah dan pink Valentine hadir bukan lewat cokelat atau bunga, tetapi melalui motif batik yang dikenakan mahasiswa dan dosen. Batik dipadukan dengan atasan tali, rok kasual, hingga aksesori kontemporer, menciptakan pemandangan visual yang tak biasa sekaligus kontekstual di ruang kampus. Batik tidak sekadar dikenakan sebagai simbol perayaan, tetapi menjadi sarana interaksi dan pertukaran makna di lingkungan kampus.
Di area diskusi terbuka Fakultas Fashion
Design and Business (FDB), mahasiswa dan dosen tampak mengamati material
tekstil, detail anyaman, serta karya berbasis kain yang dibawa ke ruang
perkuliahan. Beberapa mahasiswa memegang potongan kain sambil berdiskusi,
sebagian lain membandingkan struktur motif dan teknik pembuatan, menjadikan
Valentine sebagai momen refleksi bersama di luar simbol perayaan populer.
Pemakaian batik di hari Valentine
menunjukkan cara baru komunitas kampus memaknai ekspresi diri. Busana
tradisional tidak lagi tampil dalam konteks formal, tetapi hadir dalam styling
sehari-hari yang kasual dan eksperimental, mencerminkan kebebasan berekspresi
tanpa melepaskan akar budaya.
Kaprodi Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Yoanita Tahalele, B.A., M.A., mengatakan praktik tersebut membuka ruang pembelajaran yang lebih reflektif.
“Mahasiswa belajar memahami budaya tidak hanya melalui teori, tetapi lewat pengalaman langsung. Ketika mereka menyentuh material, berdiskusi, dan mengenakannya, proses belajar menjadi lebih bermakna,” ujarnya.
Menurut Yoanita, Valentine menjadi momentum
untuk mengajak mahasiswa melihat budaya sebagai bagian dari kehidupan
sehari-hari. Nilai empati, kebersamaan, dan penghargaan terhadap proses
tercermin melalui interaksi yang terjadi di ruang kelas maupun ruang publik
kampus.
Hal senada disampaikan Dosen FDB Universitas Ciputra, Dr. Olivia Gondoputranto, S.Sn., M.M. Ia menilai diskusi yang muncul memperkuat relasi lintas generasi di lingkungan akademik.
“Pembicaraan yang terjadi tidak hanya soal desain, tetapi juga tentang makna, identitas, dan nilai yang terkandung dalam busana. Di situ terjadi pertukaran perspektif antara dosen dan mahasiswa,” katanya.
| Karen, Gisella, Antonio, Jovita, dan Praba sedang membahas desain tekstil. |
Dari sisi mahasiswa, Valentine dengan balutan batik memberi pengalaman berbeda. Gisella Maqdelene Yuliyanto, mahasiswa Universitas Ciputra, mengungkapkan bahwa ia merasakan kedekatan baru dengan budaya.
“Saat dipakai dan dibahas bersama, batik terasa lebih personal. Bukan sekadar pakaian, tapi ada cerita dan nilai di baliknya,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana
kampus dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan pemikiran kontemporer.
Di tengah aktivitas akademik, batik hadir sebagai sarana dialog yang
menghubungkan kreativitas, refleksi, dan identitas generasi muda, memberi makna
baru pada perayaan Valentine di ruang pendidikan tinggi.
Komentar0